Share

PMK Tak Tularkan Manusia, Australia Tetap Khawatirkan Warganya yang Berlibur ke Bali

Nurul Fitriyah, Jurnalis · Jum'at 08 Juli 2022 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 07 406 2625169 pmk-tak-tularkan-manusia-australia-tetap-khawatirkan-warganya-yang-berlibur-ke-bali-PsFBSzuXwW.JPG Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

SEORANG analis dan dokter hewan terkemuka telah memperbarui seruan kepada pemerintah Australia untuk menerapkan protokol lebih ketat kepada para pelancong sepulang dari destinasi wisata populer seperti Bali, menyusul wabah penyakit mulut dan kuku di wilayah itu.

Dr. Ross Ainsworth menulis dalam Laporan Pasar Daging Sapi Asia Tenggara bahwa dengan meningkatnya jumlah pelancong dari Australia ke beberapa bagian Indonesia, khususnya Bali, risiko tertular penyakit lebih besar.

“Menurut pendapat saya, risiko (penularan PMK dari Indonesia ke Australia) sangat tinggi selama satu hingga enam bulan ke depan,” tulis Dr Ainsworth.

Pada Mei, Departemen Pertanian, Air dan Lingkungan (AWE) Australia diberitahu tentang wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di Indonesia dengan perhitungan awal lebih dari 2.000 ekor sapi yang terinfeksi di provinsi-provinsi di Sumatera Utara dan Jawa Timur.

Hingga wabah ini, Indonesia telah bebas PMK sejak 1986, status yang diakui secara internasional oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia pada tahun 1990.

Spot Kerajinan Tangan di Bali

Pada Jumat pekan lalu, Kementerian Pertanian RI mengungkap penyakit itu terdeteksi pada 63 ekor sapi di tiga lokasi di sekitar Bali.

Bulan lalu, seorang analis pertanian global mengatakan warga Australia sejatinya dilarang bepergian ke Bali selama enam bulan setelah wabah penyakit yang cepat.

Analis Global AgriTrends, Simon Quilty mengatakan kepada Yahoo News bahwa dia prihatin dengan 'lambatnya respons' Indonesia terhadap wabah tersebut, dan harus secara serius memertimbangkan untuk mengambil tindakan sekarang, mengingat penyakit itu dapat menular pada pakaian dan sepatu.

“Sebagai sebuah negara, kita perlu berpikir serius untuk melarang orang pergi ke Bali," kata Simon.

Ia memperkirakan bahwa jika tindakan segera tidak diambil di Indonesia selama delapan sampai 12 bulan ke depan, penyakit ini kemungkinan akan menyebar ke daerah lain dan bahkan ke Timor Timur dan Papua Nugini.

Baca Juga: Masyarakat Depok Terbantu BLT BBM

Sementara, dokter Ainsworth berujar bahwa protokol yang lebih ketat harus diterapkan untuk menghentikan penyebaran ke Australia.

“Sampai Bali dilindungi sepenuhnya oleh vaksinasi populasi sapi dan babi, peningkatan perhatian yang diberikan kepada wisatawan yang kembali ke Australia, terutama alas kaki mereka, tampaknya perlu dilakukan,” tuturnya.

“Memertimbangkan besarnya dampak wabah PMK di Australia dan peningkatan risiko secara dramatis yang ditimbulkan oleh epidemi saat ini di Indonesia, tepat untuk meningkatkan langkah-langkah biosekuriti agar sesuai dengan peningkatan risiko ini," kata dia.

“Wisatawan sudah terbiasa dengan banyak intervensi Covid yang mengganggu. Persyaratan tambahan seperti memastikan sepatu bersih dan berjalan melalui spons basah yang diresapi dengan disinfektan sebelum naik dan setelah meninggalkan penerbangan tampaknya merupakan tindakan sederhana dan masuk akal yang mungkin membantu mengatasi tingkat risiko penyakit PMK," terang Ainsworth.

Wabah PMK sendiri menyerang spesies berkuku terbelah termasuk domba, kambing, kerbau, unta, rusa, dan babi. Ini dapat menyebar dari hewan ke hewan dan melalui kendaraan dan peralatan yang terkontaminasi. Gejalanya meliputi demam, depresi, nafsu makan berkurang, peningkatan air liur dan kepincangan fatal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini