Share

Mengenal Kerbau Bule Keraton Solo, Dipercaya Jadi Pengawal Pusaka Kiai Slamet

Ary Wahyu Wibowo, Jurnalis · Senin 25 Juli 2022 09:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 24 549 2635221 mengenal-kerbau-bule-keraton-solo-dipercaya-jadi-pengawal-pusaka-kiai-slamet-v0ycfbgyYS.jpg Kerbau Bule Keraton Solo (dok MPI/Ary Wahyu)

KEBERADAAN Keraton Kasunanan Surakarta atau Keraton Solo tak bisa lepas dari keberadaan kerbau bule. Kerbau yang memiliki warna kulit yang khas, yaitu bule (putih agak kemerah-merahan), sampai kini masih dapat dilihat di kandang yang berada di Alun-Alun Selatan Keraton Solo.

Dikutip dari keraton.perpusnas.go.id, kerbau bule milik Keraton Solo diyakini bukan sembarang kerbau. Sebab keberadaannya termasuk salah satu pusaka penting milik keraton.

Dalam buku Babad Solo karya Raden Mas (RM) Said, leluhur kebo bule adalah hewan klangenan atau kesayangan Paku Buwono II.

infografis

Kala itu, istananya masih di Keraton Kartasura, sekitar 10 kilometer arah barat Keraton Solo saat ini. Menurut pujangga kenamaan Keraton Solo, Yosodipuro, leluhur kerbau bule merupakan hadiah dari Kiai Hasan Beshari, Tegalsari, Ponorogo kepada Paku Buwono (PB) II, yang diperuntukkan sebagai cucuk lampah (pengawal) dari sebuah pusaka keraton yang bernama Kiai Slamet.

Saat itu, PB II pulang dari mengungsi di Pondok Tegalsari ketika terjadi pemberontakan pecinan yang membakar Keraton Kartasura.

Sekadar catatan, sampai sekarang pihak keraton tidak pernah bersedia menjelaskan apa bentuk pusaka Kiai Slamet. Karena bertugas menjaga dan mengawal pusaka Kiai Slamet, maka masyarakat menjadi salah kaprah menyebut kebo bule ini sebagai Kerbau Kiai Slamet. 

Konon, saat Paku Buwono II mencari lokasi untuk keraton yang baru, tahun 1725, leluhur kerbau bule tersebut dilepas, dan perjalanannya diikuti para abdi dalem keraton. Hingga akhirnya berhenti di tempat yang kini menjadi Keraton Solo atau sekitar 500 meter arah selatan Balai Kota Solo saat ini.

Bagi masyarakat Solo dan sekitar seperti Kabupaten Karanganyar, Sragen, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, dan Wonogiri. Kerbau bule Kiai Slamet bukan lagi sebagai hewan yang asing.

Setiap malam 1 Sura dari penanggalan Jawa, atau malam tanggal 1 Muharam menurut kalender Islam (Hijriah), kerbau bule dikirab, menjadi cucuk lampah sejumlah pusaka keraton.

Ritual kirab malam 1 Sura berlangsung tengah malam, biasanya tepat tengah malam, tergantung kemauan dari kerbau Kiai Slamet. Sebab, kerbau baru keluar dari kandang selepas pukul 01.00 WIB. Kirab pusaka ini sangat tergantung pada kerbau Kiai Slamet.

Jika saatnya tiba, biasanya tanpa harus digiring kawanan kerbau bule akan berjalan dari kandang menuju halaman keraton. Peristiwa ini sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Ribuan orang tumpah ruah di sekitar istana, juga di jalan-jalan yang akan dilalui kirab.

Masyarakat meyakini akan mendapat berkah dari keraton jika menyaksikan kirab. Kawanan kerbau bule akan berada di barisan terdepan, mengawal pusaka yang dibawa para abdi dalem keraton. Sejak dulu, sekawanan kerbau bule Keraton Solo memiliki banyak keunikan.

Kawanan kerbau ini, sering berkelana ke tempat-tempat jauh untuk mencari makan tanpa diikuti abdi dalem yang bertugas menggembalakannya. Mereka sering sampai ke Cilacap yang jaraknya lebih 100 kilometer dari Solo, atau Madiun di Jawa Timur.

Namun anehnya, menjelang Tahun Baru Jawa, yakni 1 Sura atau 1 Hijriyah, mereka akan kembali ke keraton karena akan mengikuti ritual kirab pusaka.

Malam 1 Sura sangat berarti bagi orang Jawa, karena tidak saja memiliki dimensi fisik perubahan tahun, namun juga mempunyai dimensi spiritual. Sebagian masyarakat Jawa yakin bahwa perubahan tahun Jawa menandakan babak baru dalam tata kehidupan kosmis Jawa, terutama kehidupan masyarakat agraris.

Peran kerbau bule Kiai Slamet adalah sebagai simbol kekuatan yang secara praktis digunakan sebagai alat pengolah pertanian, sumber mata pencaharian hidup bagi orang-orang Jawa.

Kerbau Kiai Slamet dinilai sebagai sebuah visi raja. Secara harfiah, visi Keraton Solo yaitu ingin mewujudkan keselamatan, kemakmuran, dan rasa aman bagi masyarakatnya.

Kepala Sasono Pustoko Keraton Solo Gusti Pangeran Haryo (GPH) Puger menyebut, kirab pusaka dan kerbau sebenarnya berakar pada tradisi sebelum munculnya Kerajaan Mataram (Islam), pada prosesi ritual wilujengan nagari.

Pusaka dan kerbau merupakan simbol keselamatan. Pada awal masa Kerajaan Mataram, pusaka dan kerbau yang sama-sama dinamai Kiai Slamet, hanya dikeluarkan dalam kondisi darurat, yakni saat pageblug (wabah penyakit) dan bencana alam.

Pusaka dan kerbau ini diharapkan memberi kekuatan kepada masyarakat. Dengan ritual kirab, Tuhan akan memberi keselamatan dan kekuatan, seperti halnya Ia memberi kekuatan kepada pusaka yang dipercaya masyarakat Jawa memiliki kekuatan.

Sejarawan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Sudarmono menyebut, selain dekat dengan kehidupan petani, sosok kerbau memang banyak mewarnai sejarah kerajaan di Jawa. Semasa Kerajaan Demak, seekor kerbau bernama Kebo Marcuet mengamuk dan tak ada satu prajurit yang bisa mengalahkan.

Karena meresahkan, kerajaan menggelar sayembara barang siapa mampu mengalahkannya akan diangkat menjadi senopati. Secara mengejutkan, Jaka Tingkir atau Mas Karebet mampu mengalahkan Kebo Marcuet dengan tongkatnya.

Mas Karebet kemudian mempersunting putri Raja Demak Sultan Trenggono, dan akhirnya mengambil alih kekuasaan. Jaka Tingkir sebenarnya keturunan Kebo Kenongo, Raja Pengging Hindu yang dikalahkan Kerajaan Demak.

Pemindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang yang dekat Pengging adalah upaya Joko Tingkir mengembalikan pengaruh kekuasaan kerajaan ke pedalaman yang sarat tradisi agraris. Dari sejarah itu, kerbau selalu dijadikan alat melegitimasi kekuasaan kerajaan.

Dalam budaya agraris, kerbau simbolisasi kekuatan petani. Sosok kerbau dihadirkan dalam kirab yang diikuti abdi dalem dan rakyat. Sebenarnya ingin menunjukkan legitimasi keraton atas rakyatnya yang sebagian besar petani.

Kemunculan kerbau bule Kiai Slamet dalam kirab adalah perpaduan antara legenda dan sage (cerita rakyat yang mendewakan binatang). Dalam pendekatan periodisasi sejarah, sosok kerbau bule ditengarai hadir semasa Paku Buwono (PB) VI pada abad XVII.

PB VI merupakan raja yang dianggap memberontak kekuasaan penjajah Belanda dan sempat dibuang ke Ambon. Meski PB VI dibuang ke Ambon, namun semangat pemberontakan dan keberaniannya menghidupi rakyatnya.

Dalam peringatan naik tahta, sekaligus pergantian tahun dalam penanggalan Jawa malam 1 Sura, muncul kreativitas menghadirkan sosok kerbau bule yang dipercaya sebagai penjelmaan pusaka Kiai Slamet dalam kirab pusaka.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini