Share

Menengok Karya Seni Kontemporer Bernada Sindiran di Museum Macan, Ajib Banget!

Antara, Jurnalis · Kamis 28 Juli 2022 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 27 408 2636959 menengok-karya-seni-kontemporer-bernada-sindiran-di-museum-macan-ajib-banget-rUjPZSqdV4.JPG Pengunjung terkesima oleh suguhan karya seni kontemporer di Museum Macan (Foto: Antara/Hendri Sukma Indrawan)

MUSEUM Macan, mendengar nama ini pasti kita membayangkan sebuah museum yang menampilkan berbagai hewan sejenis kucing besar dan buas menakutkan atau seputar tentang 'permacanan' dari mulai macan yang diawetkan, patung replika macan hingga sejumlah macan lainnya.

Namun, museum tersebut sangatlah jauh dari bayangkan kita. Bahkan, apa yang ditampilkan sama sekali tidak berhubungan dengan hewan karnivora buas tersebut.

Museum Macan ternyata adalah sebuah kependekan dari 'Museum of Modern And Contemporary Art in Nusantara'.

Museum yang berlokasi di AKR Tower, Kebon Jeruk, Jakarta Barat tersebut merupakan sebuah museum seni kontemporer yang menampilkan berbagai karya para seniman dan perupa dari Indonesia serta mancanegara.

Seni kontemporer dan modern yang ditampilkan oleh Museum Macan ini tidak terbatas pada lukisan, tetapi juga mencakup gaya modern menggunakan berbagai media, teknik dan seni instalasi.

Beberapa tahun terakhir, Museum Macan telah menjadi salah satu destinasi wisata baru di Ibu Kota karena karya yang ditampilkan tidak biasa dan penyajian hasil karya serta 'spot-spot' yang ada di dalamnya sangat keren.

Pameran 'The Theater of Me'

Saat ini museum ini sedang menggelar pameran bertajuk 'The Theater of Me' untuk merayakan tiga dekade berkarya perupa asal Yogyakarta, Agus Suwage.

Infografis Museum Beken di Jakarta

Mengutip dari laman resmi Museum Macan, Agus Suwage adalah salah satu perupa terkemuka Indonesia yang praktik berkeseniannya muncul di tengah gejolak perubahan sosial dan politik Indonesia, menjelang era Reformasi pada pertengahan 1990-an, khususnya Kerusuhan Mei 1988.

Campuran harapan dan ketakutan dapat dirasakan di banyak karya yang digantung serta dipajang di aula hingga sudut museum.

Karyanya secara mendalam mengungkapkan harapan dan rasa frustrasi dari generasi yang terhanyut dalam pergeseran kekuasaan serta identitas, yang dipengaruhi baik oleh pembaruan nasional maupun globalisasi.

Suwage dianggap sebagai pelopor seni rupa modern di Indonesia karena menjadi pelukis pertama yang memanfaatkan teknik seni lukis modern dari Barat.

Pengunjung Museum Macan

(Foto: Antara/Hendri Sukma Indrawan)

Sebagai salah satu seniman kontemporer Indonesia yang paling terkenal, Suwage telah membangun reputasinya dengan mengekspresikan tema budaya dan sosial-politik melalui sinisme dan sindiran.

Sentimen-sentimen itu dimanifestasikan dalam sebuah pameran terbarunya tersebut yang digelar di Museum Macan sejak 4 Juni hingga 15 Oktober 2022.

Pameran itu memperlihatkan perkembangan Suwage sebagai seniman selama tiga dekade dan menampilkan lebih dari 80 karya seni dari perupa asal Yogyakarta tersebut, mulai dari patung, instalasi, lukisan, hingga gambar.

"(Pameran) direncanakan tepat sebelum pandemi, jadi kami harus menunda peluncuran dan berhenti," kata Suwage.

"Dan selama status yang panjang itu, saya telah melupakan banyak proses dan karya seni yang kami rencanakan untuk dipamerkan. Jadi ini adalah momen penting untuk menemukan kembali, mengenang, dan menghidupkan kembali karya-karya yang telah saya lakukan, seperti bertemu seorang teman lama," lanjut Suwage.

Lahir di Purworejo, Jawa Tengah pada 14 April 1959, Suwage memulai kariernya sebagai desainer grafis, di mana ia belajar disiplin dan lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain di Institut Teknologi Bandung (ITB). Karya-karyanya telah dipamerkan di seluruh Indonesia dan luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, India, Meksiko, Belanda, dan Jerman.

Sepanjang kariernya, ia konsisten menggali cerita bertema identitas serta wacana sosial-politik dan budaya pada masanya.

Karya Agus Suwage

Saat memasuki ruang pameran, pengunjung langsung disambut dengan instalasi bergaya monumen yang terdiri dari lebih dari seribu botol bir kaca berwarna hijau dengan sosok kerangka bersayap emas mengenakan sorban serta memegang pedang bertengger di atasnya.

Museum Macan
(Foto: Antara/Hendri Sukma Indrawan)

Karya berjudul 'Monumen yang Menjaga Hankamnas' (2012) merupakan sebuah parodi dari individu-individu yang haus kekuasaan, sekaligus kritik terhadap aib otoriter dan intoleransi. Meskipun reformasi sedang berlangsung, Suwage berpendapat bahwa toleransi masih merupakan konsep yang dibuat-buat yang harus diperjuangkan.

Karya-karya Suwage dalam pameran ini memang terlihat suram, terselubung dalam humor dan visualisasi gelap, tidak sopan namun tetap dengan kritik diri dan ironi.

Karya tersebut diam-diam memancarkan emosi pedih dari perjalanannya dan kebenaran pahit yang telah dia saksikan sepanjang hidup.

Karya lainnya berjudul 'Daughters of Democracy' (1996) adalah tiga lukisan menggambarkan wajah aneh dengan latar belakang hutan gundul. Lukisan tersebut diciptakan setelah kelahiran putrinya pada 1996, saat suasana di Jakarta meresahkan.

Melalui karya itu, Suwage bersimpati dengan pemberontakan dan protes mahasiswa yang meletus di Jakarta. Ia menggunakan karya ini untuk memberi penghormatan kepada mereka sebagai simbol harapan bagi generasi dan demokrasi baru.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini