Share

Mengenal Merariq, Tradisi Kawin Lari Suku Sasak di Lombok

Syifa Fauziah, Jurnalis · Minggu 07 Agustus 2022 04:47 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 06 406 2643166 mengenal-merariq-tradisi-kawin-lari-suku-sasak-di-lombok-gKtgTnZPL6.jpg Ilustrasi (Shutterstock)

SETIAP daerah di Indonesia pastinya memiliki tradisi yang unik. Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat misalnya. Masyarakat setempat punya tradisi kawin lari yang disebut dengan Merariq. Merariq atau kawin lari ini biasanya dilakukan oleh Susuk Sasak di Lombok.

Sebagai negara kepulauan yang memiliki banyak suku dan budaya, terdapat pula banyak tradisi di dalamnya. Tradisi-tradisi tersebut pastinya sangat menarik perhatian wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah di Indonesia.

 BACA JUGA:5 Tradisi Cari Jodoh Terunik di Indonesia, Bertarung dengan Tangan Kosong hingga Ciuman Massal

Saat Anda menyempatkan waktu berlibur ke Lombok, suatu keberuntungan bila bisa melihat tradisi unik yang disebut dengan melariq. Dalam tradisi Suku Sasak, kawin lari lebih terkesan pemberani dan kesatria, jadi berbeda dengan tradisi yang ada di tempat lain.

Sejarah merariq

 

Melatiq merupakan tradisi Suku Sasak yang sudah ada sejak zaman dahulu dan jadi tradisi turun temurun dari nenek moyang mereka.

 

Ada yang menyebut bahwa tradisi ini sudah dijalankan sebelum masyarakat sebelum wilayah Lombok dikuasai Kerajaan Bali pada abad 18. Namun ada juga yang berpendapat bahwa tradisi ini merupakan hasil akulturasi dengan tradisi Bali.

Bagi masyarakat Lombok, jika ada anak gadis yang tidak pulang dalam waktu 1 kali 24 jam, berarti gadis tersebut sedang menjalani tradisi kawin lari. Tradisi ini dilegalkan di Lombok.

 BACA JUGA:4 Tradisi Adat Istiadat di Tana Toraja yang Masih Bertahan hingga Kini

Praktik merariq

 

Melariq biasanya dilakukan oleh sepasang kekasih atas dasar saling sayang dan cinta tanpa paksaan dari orang lain. Sebelum melalukan tradisi ini, biasanya sepasang kekasih merencanakan terlebih dahulu kapan tradisi itu dilakukan. Pasangan yang melakukan melariq juga tidak boleh diketahui oleh orang tua pihak wanita.

Setelah terjadi kesepakatan waktu, biasanya calon pengantin wanita di bawa ke rumah calon pengantin pria. Hal itu untuk menjaga kondisi calon pengantin wanita agar dalam keadaan baik-baik saja. Proses ini juga atas persetujuan dari orang tua calon pengantin pria. Proses melariq ini biasanya berlangsung selama satu sampai dua hari.

Setelah tradisi melariq selesai, dilanjutkan dengan tahap selabar yang merupakan tahap pemberitahuan dilakukan oleh Kepala Dusun pihak pria kepada pihak wanita yang menyatakan bahwa saat ini sedang terjadi proses merariq.

Tahap selanjutnya adalah besejati yang merupakan kegiatan pemberitahuan langsung kepada orang tua pihak wanita melalui kepala dusun. Setelah ada kesepakatan antara orang tua pihak wanita, dilanjutkan dengan tahap ambil wali. Proses ini dilakukan juga proses seperti pembicaraan mengenai jumlah mahar, persyaratan kelengkapan administrasi, dan akad nikah.

Tak sampai disitu, ada tahap ambil wali dan nyongkolan. Nyongkolan ini salah satu kegiatan untuk merayakan pernikahan masyarakat Suku Sasak seperti arak-arakan untuk mengantar pengantin ke rumah pengantin wanita diiringi bersama keluarga dan kerabat menggunakan pakaian adat khas suku Sasak dan lantunan irama gendang beleq.

 Ilustrasi

Nyongkolan sendiri memiliki tujuan untuk memberitahu bahwa baik pengantin wanita dan pria sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Dan proses terakhir ditutup dengan balik tampak.

Di mana proses ini bentuk silaturahmi antara pihak mempelai wanita dan pihak mempelai pria. Proses ini juga sekaligus momen untuk saling bermaaf-maafan apabila ada kesalahan yang disengaja maupun yang tidak di sengaja oleh kedua belah pihak.

Itu dia tradisi merariq yang bisa dijalankan oleh masyarakat suku Sasak di Lombok.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini