Share

Rayakan HUT ke-77 Kemerdekaan RI, Yuk Jelajahi Jejak De Groote Rivier Tempatnya Kaum Borjuis Jakarta di Masa Lalu

Thomas Pulungan, Jurnalis · Selasa 09 Agustus 2022 06:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 08 549 2643784 rayakan-hut-ke-77-kemerdekaan-ri-yuk-jelajahi-jejak-de-groote-rivier-tempatnya-kaum-borjuis-jakarta-di-masa-lalu-ISxwnEPMUS.jpg Jakarta Tempo Dulu (dok Indonesia Tempo Doeloe)

MENYAMBUT perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-77 Kemerdekaan RI, kaum pemuda bisa menjelajahi jejak De Groote Rivier yang merupakan tempatnya kaum borjuis di masa lalu loh.

Melansir laman resmi http://fkai.org/napak-tilas-kejayaan-batavia, Kota Jakarta pada awalnya bernama Sunda Kelapa, yang merupakan pelabuhan Kerajaan Pajajaran. Setelah itu, pada tahun 1527 namanya diubah menjadi Kota Jayakarta. Pada tahun 1619, Jayakarta dibumihanguskan Belanda.

Dari reruntuhan Jayakarta itulah lahir Batavia, yang selanjutnya menjadi pusat pemerintahan VOC dan Hindia Belanda. Kawasan Kali Besar Central Business District (Kawasan Kali Besar CBD) atau kawasan Kota Tua, pada masa kolonial disebut dengan De Groote Rivier (Kali Besar).

Dulu, muara Sungai Ciliwung adalah jantung perekonomian Jakarta. Pada masa itu, di tepi Kali Besar terdapat dermaga dan bangunan-bangunan tua dari abad ke-18 hingga awal abad ke-20.Dahulu, Kali Besar dijadikan tempat jalur perahu-perahu yang membawa rempah-rempah menuju Pelabuhan Sunda kelapa.

Kali Besar dahulu dianggap sebagai kawasan elite karena menjadi tempat pemukiman orang kaya dan bangsawan. Di daerah tersebut berjejer bangunan-bangunan lama yang terdiri dari kantor, toko, dan gudang yang kemudian jika diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda disebut Groote Rivier.

infografis

Dulu di sana para nyonya besar, serta nyai-nyai Belanda mengenakan rok kurung yang sangat mewah menggunakan perahu yang melintas di perkotaan untuk keliling kampung, dan menyambangi kerabat.

Kali Besar dideskripsikan sangat rapih, tertata, dan bersih, sehingga sering juga dijadikan tempat kencan anak muda selama di sana. Mungkin jika masih dijaga, Jakarta sudah seperti Venesia di Italia.

Rumah di sepanjang Kali Besar dibangun dengan konsep international style, yang kala itu sedang melanda Eropa. Pada barisan bangunan itu terlihat dominasi pintu oval. Banyak detil bangunan yang sudah mengeropos, dan beberapa kaca yang sudah pecah diganti dengan kaca zaman sekarang.

Baca Juga: Dua Kapal Ikan Asing Pelaku IUU Fishing Berhasil Diamankan BAKAMLA dan KKP RI

Jika menyusuri kawasan ini, masih bisa melihat sisa-sisa bangunan dan jejak-jejak kejayaan masa lalu. Berbagai bangunan bersejarah, meski sebagian sudah hancur, masih dapat kita saksikan karena masih berdiri tegak. Rumah elite di sana hingga sekarang masih ada yang berdiri kokoh, salah satunya Toko Merah yang berada di dekat Halte Kali Besar.

Bangunan ini dulunya punya petinggi Belanda, kemudian dijadikan tempat berjualan oleh warga China, Oey Liauw Kong sejak abad 19. Bangunan ini dinamakan Toko Merah karena batu bata merah yang menjadi unsur utama dari gedung. Namun, di tahun 1755, toko menjadi sebuah kampus dan asrama Academie de Marine sebuah akademi angkatan laut.Dan berubah lagi di tahun 1786 sampai 1808 yang dijadikan sebuah hotel.

Banyak sejarah yang dituangkan dari Toko Merah ini, bahkan dulu juga sempat dijadikan balai kesehatan saat masa pendudukan Jepang di Batavia.Jika berjalan di sepanjang Sungai Kali Besar ke arah Jalan Pintu Besar Utara, terlihat gedung megah Pusat Bank Indonesia lama dan Museum Wayang. Di sisi utara museum ada Cafe Batavia yang menempati bangunan tua yang berdiri sejak awal tahun 1800-an.

Menuju Jalan Pos Kota, di sisi timur kantor pos, berdiri bangunan bergaya Indische Empire Stijl. Bangunan tersebut merupakan bekas gedung pengadilan Belanda, yaitu Raad van Justitie, yang dibangun pada tahun 1866-1870. Bangunan bergaya Yunani Klasik ini sekarang berfungsi sebagai Museum Keramik dan Balai Seni Rupa. Di sisi selatannya berdiri megah bangunan Museum Sejarah Jakarta.

Gedung ini dibangun sebagai gedung Balai Kota pada 23 Januari 1707, atas perintah Gubernur Jenderal Johan van Hoorn. Gedung tersebut selesai dibangun pada 10 Juli 1710, pada masa Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck.

Kini,Kali Besar Kota Tua merupakan tempat destinasi wisata yang menarik di DKI Jakarta. Kali Besar Kota Tua mirip dengan Sungai Cheonggyecheon di Seoul, Korea Selatan.

Beberapa spot menarik yang berada di Kali Besar yaitu, Taman Apung, Jembatan, Patung unik, dan beberapa bangku di pinggir kali bisa menjadi spot menarik untuk berfoto-foto dan diunggah di sosial media.

Spot-spot menarik lainnya yakni Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, Museum Seni Rupa dan Keramik, dan Toko Merah.Kali Besar Kota Tua dibuka untuk publik selama 24 jam. Namun, karena masih situasi pandemi kawasan Kali Besar dibatasi hanya sampai pukul 19.00 WIB. Hal ini bertujuan untuk menekan penyebaran virus COVID-19.

Untuk bisa menuju ke tempat ini secara gratis, pengunjung dapat menggunakan bus tingkat yang dikenal dengan city tour untuk menuju ke Kali Besar. Bus ini beroperasi Senin-Sabtu mulai pukul 10.00-18.00 WIB, dan Minggu pada pukul 12.00-19.00 WIB.

Dengan rute History Of Jakarta, pengunjung dapat berangkat dari kawasan Jakarta Pusat untuk naik dari halte Juanda/Masjid Istiqlal, kemudian mengarah ke Monas, Balai Kota, Museum Nasional, Gedung Arsip, hingga akhirnya tiba di Museum BI yang berada di dalam Kawasan Kota Tua.

Dari Museum Bank Indonesia, tinggal berjalan beberapa ratus meter saja untuk sampai di Kali Besar. Sesampainya di sana, akan dimanjakan dengan bangunan cagar budaya Kota Tua.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini