Share

Masyarakat Ngeluh Tiket Pesawat Mahal, ASITA: Maskapai Juga Perlu Survive

Novie Fauziah, Jurnalis · Kamis 11 Agustus 2022 02:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 10 406 2645122 masyarakat-ngeluh-tiket-pesawat-mahal-asita-maskapai-juga-perlu-survive-TWkfHbR0bD.JPG Suasana penumpang di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang (Foto: MNC Portal)

SEKRETARIS Jenderal (Sekjen) Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (ASITA), Bahriyansyah Momod menanggapi kenaikan harga tiket pesawat terbang, yang mana hal ini telah didukung oleh pemerintah.

Sehingga sejumlah maskapai penerbangan mulai menaikan satu persatu harga tiket yang harus dibayar oleh para calon penumpang.

Bahriyansyah mengatakan, dengan adanya penetapan baru tarif atas biaya tambahan untuk bahan bakar (fuel surcharge), sedikit berpengaruh pada tingkat permintaan pasar pariwisata ditengah inflasi yang terjadi saat ini.

Akan tetapi, kata dia, hal tersebut tidak banyak menghalangi calon wisatawan untuk berwisata secara signifikan. Menurutnya, sejak awal masyarakat sudah teredukasi.

"Ini disebabkan beberapa waktu, masyarakat sudah teredukasi yang selama ini banyak mendapat harga promo tarif batas bawah sebelum pandemi," katanya saat berbincang dengan Okezone, Rabu, 10 Agustus 2022.

Infografis Pesawat

Lebih lanjut, selama 5 sampai 6 bulan belakangan ini, sejumlah maskapai penerbangan sudah menjual tarif batas atas plus surcharge. Maka dari itu dengan ada kenaikan sekarang ini, tidak terlalu dirasakan perbedaannya.

Bahriyansyah bilang, keputusan dan dukungan pemerintah tentang kenaikan harga tiket pesawat itu dirasa sudah cukup tepat. Sebab, pemerintah ikut andil mengatur sekaligus meninjau batasan-batasan tarif.

"Dalam penetapan tarif pemerintah hanya bisa mengatur regulasi pada perusahaan maskapai penerbangan masing-masing. Mereka juga perlu survive dan menyesuaikan adanya demand (tuntutan)," demikian Bahriyansyah.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengizinkan maskapai untuk menaikkan harga tiket pesawat.

Adapun maskapai diizinkan mengenakan biaya tambahan (surcharge) paling tinggi 15 persen dari batas atas untuk pesawat jet. Lalu, untuk pesawat udara jenis propeller atau baling-baling paling tinggi 25 persen dari tarif batas atas.

Hal itu tertuang dalam Keputusan Menteri (KM) Nomor 142 Tahun 2022 tentang Besaran Biaya Tambahan (Surcharge) yang Disebabkan Adanya Fluktuasi Bahan Bakar (Fuel Surcharge) Tarif Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Di mana, aturan tersebut berlaku mulai 4 Agustus 2022.

Plt Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Nur Isnin Istiartono mengatakan, kebijakan ini perlu ditetapkan agar maskapai memiliki pedoman dalam menerapkan tarif penumpang.

"Secara tertulis, imbauan ini telah kami sampaikan kepada masing-masing direktur utama maskapai nasional, untuk dapat diterapkan di lapangan," ujar Nur Isnin dalam keterangan resminya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini