Share

Yuk Jelajahi Sejarah Zaman Purba di Desa Wisata Sangiran Sragen

iNews TV, Jurnalis · Kamis 11 Agustus 2022 15:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 10 549 2645186 yuk-jelajahi-sejarah-zaman-purba-di-desa-wisata-sangiran-sragen-ys2fiEcpOc.jpg Desa Wisata Sangiran (dok iNews/Anindita)

 

PLESIRAN ke Surakarta sembari mencicipi makanan khasnya, seperti selat solo Mbak Lies, jangan lupa untuk melanjutkan liburan dengan #MenyapaDesa ke Desa Wisata Sangiran di Sragen.

Desa Wisata Sangiran yang terletak sekitar 19 kilometer dari Surakarta ini menyimpan cerita sejarah masa purba yang menarik perhatian. Hal ini dikarenakan, di Desa Wisata Sangiran telah ditemukan fosil berjenis hominid purba.

Jika Anda penasaran, dapat mengunjungi Museum Purba Sangiran yang juga menjadi destinasi andalan #DesaWisata ini. Museum dibuka pada Selasa sampai Minggu, mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.

infografis

Tiket masuknya pun terjangkau, hanya perlu mengocek Rp8.000 untuk domestik dan Rp15.000 untuk mancanegara. Jangan khawatir dengan mobilitasnya, Anda hanya perlu menaiki bus rapid transit (BRT) dari terminal Tirtonadi dengan ongkos sekitar Rp4.000.

Lalu, berhenti di terminal BRT Sangiran dan dilanjut dengan menaiki shuttle gratis. Setiba di Museum Purba Sangiran, Anda akan langsung disambut dengan patung manusia purba raksasa.

Kemudian, di halamannya terdapat pertunjukan teatrikal berupa tari karawitan dan tumbuk lesung oleh sanggar sangiran. Uniknya, pertunjukan ini kerap menyuguhkan dengan tema berbeda.

Baca Juga: Dua Kapal Ikan Asing Pelaku IUU Fishing Berhasil Diamankan BAKAMLA dan KKP RI

Salah satunya tentang kegundahan ruang bermain yang hilang. Pertunjukan yang dimainkan oleh anak-anak dan orang dewasa ini tentu memberikan kesan tersendiri kepada para pengunjungnya.

Oleh karena itu, Anda dapat memberikan apresiasi secara sukarela. Masuk ke museum purba, Anda akan dibawa jauh ke masa lampau, yakni 2,4 juta tahun yang lalu.

Di mana pada waktu itu, Sangiran dipercaya berupa lautan. Oleh karenanya, di desa ini banyak ditemukan fosil berupa hewan laut dan moluska. Setelah itu, air menurun dan berubah menjadi pucangan, lalu menjadi rawa-rawa pada 1,8 juta tahun yang lalu. Namun, pada 900 ribu tahun yang lalu, Sangiran akhirnya menjadi daratan karena adanya material vulkanik.

Sampai akhirnya, sekitar 730.000 tahun yang lalu mulai adanya kehidupan, dengan ditandai menjadi golden era dari homo erectus dan munculnya berbagai jenis flora serta fauna.

Pada 300.000 tahun lalu, homo erectus bermigrasi ke arah timur, dikarenakan adanya aktivitas vulkanik yang membuat lahan menjadi kering dan tidak bisa menjadi tempat tinggal.

Kental dengan cerita masa kehidupan purba, di Desa Sangiran telah ditemukan sekitar 100 fosil manusia purba. Dengan jumlah tersebut, desa wisata ini sudah menyumbang 50 persen dari seluruh penemuan fosil homo erectus di dunia.

Salah satu fosil yang ditemukan ialah meganthropus paleojavanicus. Hal ini juga yang membuat Desa Wisata Sangiran ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 1996.

Tidak hanya penemuan fosil, sejarah di Desa Wisata Sangiran ini juga terlihat dengan adanya beberapa cekungan air asin yang berusia 2,4 juta tahun. Cekungan air asin yang berada di wilayah perkebunan ini dinamai dengan Mata Air Pablengan.

Di mana, ‘bleng’ adalah garam yang dibuat untuk kerupuk gendar. Air asin ini juga dulunya kerap digunakan sebagai pengganti garam dapur, sebelum akhirnya mudah ditemukan seperti sekarang.

Uniknya lagi, pada mata air ini terdapat gelembung yang berbau belerang. Oleh karenanya, saat api mendekat, maka akan meletup. Mata air asin ini berawal karena Sangiran dulunya berupa lautan. Namun, adanya pergeseran kulit bumi lah yang membuat air asin ini terperangkap di Sangiran hingga saat ini.

Untuk tiba di Mata Air Pablengan, Anda perlu membelah hamparan sawah yang jadi #PesonaIndonesia, tentu dapat memanjakan pandangan.

Desa wisata yang ditetapkan pada pertengahan 2019 ini telah dikunjungi oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno.

Diakui oleh Aries Yustioko, sekretaris Desa Wisata Sangiran, Sandiaga Uno sempat mencicipi sensasi menaiki getek –perahu yang dibuat dari bambu- pada aliran sungai yang sampai ke Punden Tingkir.

“Yang pertama kemarin, mas menteri sempet naik getek sampai ke Punden Tingkir. Di situ juga ada event tahunan kita, pasar budaya yang berbagai macam kuliner dan kerajinan UMKM, produk-produk yang ada di tempat kita. Kemudian, berkunjung ke museum sangiran,” tuturnya.

Aries juga mengatakan, jika UMKM inilah yang membuat Desa Wisata Sangiran tetap bangkit meski diterpa pandemi Covid-19.

“Kita desa wisata kebentuk di tahun 2019 pertengahan, kemudian kita baru merintis, tapi di 2020 awal kita udah keserang pandemi. Tapi kita juga tidak patah semangat, kita selalu berkreasi, kita menciptakan inovasi-inovasi yang ada di tempat kita. Kita mengembangkan, baik itu dari produk umkm, kuliner, dan juga souvenir-souvenir seni budaya yang ada di tempat kita,” ujarnya.

Produk UMKM ini dijajakan tidak hanya pada saat event saja, namun juga setiap Minggu di Taman Punden Tingkir. Anda akan menemukan berbagai produk UMKM Desa Sangiran yang tentunya hanya ada #DiIndonesiaAja. Di hari biasa, taman ini digunakan sebagai tempat berlatih pencak silat.

Bahkan, nantinya para pengunjung bisa mengikuti latihan dan diajarkan beberapa jurus silat, serta counter lawan dengan membayar paket wisata.

Selain itu, mereka juga akan menyajikan atraksi pencak silat yang membuat decak kagum para pengunjungnya. Setelah lelah berpetualang di Desa Wisata Sangiran, Anda dapat menginap di homestay yang disediakan oleh warga setempat.

Jangan khawatir, para pengunjung dapat memilih homestay yang tergabung dengan warga setempat ataupun khusus homestay. Asyiknya, homestay di Desa Sangiran ini telah menerapkan protokol kesehatan. Salah satunya, homestay milik Pak Ratmo yang menyediakan enam kamar tidur serta empat kamar mandi.

Cukup dengan membayar Rp100.000 per orang untuk per malamnya, Anda telah bisa beristirahat dengan nyenyak dan mendapatkan secangkir kopi di pagi hari secara gratis.

Beristirahat sambil mengakses internet pun tak masalah, karena jaringan internet di Desa Sangiran cukup kencang. Apalagi, desa wisata ini telah mendapatkan dukungan internet gratis selama satu tahun. (Anindita Trinoviana)

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini