Share

Harga Tiket Pesawat Australia-Bali Lebih Mahal dari ke Thailand, Wagub Cok Ace Bilang Begini

Antara, Jurnalis · Sabtu 13 Agustus 2022 03:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 12 406 2646428 harga-tiket-pesawat-australia-bali-lebih-mahal-dari-ke-thailand-wagub-cok-ace-bilang-begini-0lnUF169tg.JPG Suasana penumpang di Bandara Soekarno-Hatta (Foto: MPI/Nandha)

WAKIL Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menyebut daerah setempat memerlukan subsidi silang dari pemerintah pusat sehingga harga tiket pesawat dari luar negeri ke Pulau Dewata bisa lebih wajar.

"Sekarang harga tiket pesawat dari Australia ke Bali lebih mahal dibandingkan dari Australia ke Thailand," kata Wagub yang biasa disapa Cok Ace itu, mengutip Antara.

Menurut dia, dalam forum diskusi bertajuk 'Recover (Bali) Together: Menanti Solusi Kelangsungan dan Pemulihan Usaha' itu, mahalnya harga tiket pesawat ke Bali turut menjadi tantangan untuk pemulihan pariwisata Bali.

"Itu (harga tiket pesawat-red) kebijakannya di pusat. Oleh karena itu, kami mohon pada pusat. Kenapa kalau penerbangan ke daerah lain bisa disubsidi silang oleh negaranya, kenapa Indonesia tidak?," ucap pria yang juga Ketua PHRI Bali itu.

Terkait persoalan mahalnya harga tiket pesawat ke Bali, Cok Ace mengatakan, pemerintah provinsi setempat sudah berusaha untuk memberikan masukan ke pemerintah pusat supaya harga tiket pesawat ke Bali bisa lebih wajar.

"Tiket yang mahal ini bagi wisatawan, kami bekerja keras untuk memperbaiki destinasi dan memberikan pelayanan yang terbaik, namun kembali lagi pada permodalan pengusaha," ujarnya.

Oleh karena dampak pandemi Covid-19, pengusaha pariwisata Bali saat ini dihadapkan pada persoalan biaya operasional, SDM, hingga kewajiban untuk membayar utang.

Dijelaskannya, meskipun hotel-hotel sudah beroperasi, tetapi sejatinya kamar yang siap dijual itu kisaran 40-60 persen dari total kamar yang dimiliki karena kerusakan sarana prasarananya akibat vakum selama dua tahun.

Selain itu, pelaku pariwisata di Bali tidak mudah juga untuk mendidik tenaga kerja profesional, karena tidak sedikit SDM pariwisata Bali yang profesional beralih bekerja di kapal pesiar.

"Jika soft loan (pinjaman lunak) dikasi, andaikata utang (relaksasi restrukturisasi kredit-red) ditunda hingga 2025, apakah selesai persoalannya? Tentu belum," kata penglingsir (tokoh) Puri Ubud itu.

Ia pun memprediksi kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali hingga akhir 2022 masih di bawah 2 juta orang. Jumlah tersebut terpaut jauh dengan kunjungan wisman sebelum pandemi sebanyak 6,3 juta jiwa.

Oleh karena itu, melalui forum diskusi itu, Cok Ace berharap ada rekomendasi yang berguna bagi semua kalangan dan rekomendasi yang bisa dilakukan pemerintah.

Dalam acara tersebut menghadirkan sejumlah narasumber yakni Gede Agus Maha Usadha (Wakil Ketua Umum KADIN Bali Bidang Pariwisata dan Investment), Putu Subada Kusuma (Wakil Ketua Bidang Legal PHRI Bali), dan I Ketut Wiratjana (Ketua DPD Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini