Share

Cerita Kelam Pembangunan Terowongan Niyama di Tulungagung

Avirista Midaada, Jurnalis · Senin 15 Agustus 2022 17:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 14 549 2647490 cerita-kelam-pembangunan-terowongan-niyama-di-tulungagung-jc9xWACVcA.jpg Terowongan Niyama di Tulungagung (dok MPI/Avirista)

TEROWONGAN Niyama menjadi bangunan tak terpisahkan bila bicara kesuburan tanah di Kabupaten Tulungagung hingga kemajuan pertaniannya.

Sejarawan Tulungagung Latif Kusairi menyebutkan, bila parit – parit dari anak Sungai Brantas yakni Kali Ngrowo dibuat hingga menuju Terowongan Niyama, yang kemudian dialirkan ke Samudera Indonesia yang berada di selatan Kabupaten Tulungagung.

infografis

Hal ini karena rawa – rawa yang banyak terdapat di Campurdarat, Tulungagung mengalami pendangkalan pasca adanya letusan Gunung Kelud, sehingga saat hujan deras aliran air sulit mengalir karena rawa mengalami pendangkalan.

“Dulu wilayah Kabupaten Tulungagung ini sering dilanda banjir besar karena banyaknya rawa - rawa saat masa penjajajah Jepang, lalu oleh Jepang dibawah Residen Kediri Enji Kihara dibangunlah parit raya, parit agung, dan terowongan Niyama. Panjang parit ke terowongan ini ada 4 kilometer,” ucap Latif, saat dikonfirmasi MNC Portal.

Baca Juga: Dua Kapal Ikan Asing Pelaku IUU Fishing Berhasil Diamankan BAKAMLA dan KKP RI

Dari sanalah kisah kelam terjadi, penjajah Jepang memerintahkan kencho, istilah sebutan bupati, yang kala itu dijabat Raden Djanoeismadi beserta camat dan kepala desa kala itu menyediakan tenaga – tenaga manusia untuk dipekerjakan membuat parit dan terowongan tersebut.

“Awalnya mereka (Jepang) ini mengiming – imingi pekerja akan diberikan upah, namun dalam perjalananya upah itu nggak ada, hanya beberapa saja yang diberikan upah. Lainnya dipekerjakan paksa oleh Jepang. Total sekitar ada 20 ribu orang dipekerjakan romusha,” terang sejarawan kelahiran Tulungagung ini. “Romusha terjadi bukan hanya saat pembuatan terowongan, tapi juga parit raya dan parit agung,” imbuhnya.

Pekerjaan pembuatan parit dan terowongan pun dimulai pada Februari 1943 dengan membuka hutan. Para pekerja romusha datang tak hanya dari Tulungagung saja, namun juga dari beberapa wilayah di Jawa Timur, seperti Kediri, Nganjuk, Blitar, Malang, dan Trenggalek, Jawa Tengah, bahkan hingga Jawa Barat.

“Jadi Februari 1943 mulai bekerja membangun parit yang mengarah ke Samudera Indonesia. Hampir ribuan orang ini didatangkan dari daerah – daerah lain juga ada dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat, untuk membangun saluran air atau parit yang mengarah ke selatan dan dibuang ke Samudera Indonesia,” jelas dosen sejarah di IAIN Surakarta ini.

Beragam kisah – kisah pilu selama romusha mewarnai, mulai dari para pekerja yang tak diberikan akses makanan dan minuman yang memadai hingga serangan nyamuk malaria yang kala itu cukup mematikan.

“Para pekerja ini tidak diberikan makan yang cukup, jadi hanya pekerja yang rajin saja yang diberikan makan itupun terbatas. Sehingga keadaannya cukup memprihatinkan dan menderita. Banyak juga yang meninggal dunia karena kelelahan dan sakit terkena malaria,” paparnya.

Jejak kekejaman romusha ini diabadikan melalui sebuah monumen di kawasan Terowongan Niyama yang dinamakan Monumen Sukamakmur.

Monumen ini sendiri dibuat bersama rekonstruksi Terowongan Niyama tahun 1986, untuk mengenang para korban romusha pembuatan parit dan terowongan.

Kini saluran air dan terowongan dikelola oleh PT Jasa Tirta 1. Hal ini diakui oleh seorang Pengelola Terowongan Niyama dari staf PT Jasa Tirta 1 Suprapto. “Sekarang ini dikelola Jasa Tirta 1, sudah sejak tahun 1990-an. Memang saluran airnya itu dibangun saat penjajahan Jepang,” tukasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini