Share

Potret Megah Terowongan Niyama, Saksi Bisu Kekejaman Jepang terhadap Romusha di Tulungagung

Avirista Midaada, Jurnalis · Selasa 16 Agustus 2022 09:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 15 408 2647991 potret-megah-terowongan-niyama-saksi-bisu-kekejaman-jepang-terhadap-romusha-di-tulungagung-ny59q67jMB.JPG Terowongan Niyama di Tulungagung, Jawa Timur (Foto: MPI/Avirista Midaada)

PEMBUATAN Terowongan Niyama di Tulungagung, Jawa Timur semasa penjajahan Jepang diwarnai dengan kisah kelam. Sayang pasca kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, terowongan ini kurang terawat begitu maksimal.

Hasilnya terowongan yang sedianya mampu mengendalikan air dan mengelola sistem pengairan di Tulungagung pun terbengkalai.

Sejarawan Tulungagung, Latif Kusairi menyebut, sebenarnya terowongan ini difungsikan untuk mengelola aliran air untuk persawahan warga. Tercatat pasca dibuka pada Juli 1944, sebanyak 16.000 hektar tanah di wilayah di Campurdarat menjadi sawah yang subur.

“Sayang, setelah kemerdekaan, Terowongan Niyama ini tidak dirawat dengan baik sehingga terjadi pendangkalan. Hasilnya pada tahun 1955 Tulungagung kembali dilanda banjir besar, jadi tahun 1955 itu di Tulungagung banyak yang tidak melakukan pemilu,” kata Latif saat berbincang dengan MNC Portal, Senin, 15 Agustus 2022.

Pendangkalan ini yang membuat musibah banjir terus menerus terjadi setiap tahunnya di Kabupaten Tulungagung. Alhasil menyadari hal itu, perbaikan terowongan pun sempat dilakukan di masa orde baru di bawah Presiden Soeharto, sebab saat itu terowongan tak mampu lagi menampung debit air.

Terowongan Niyama
(Foto: MPI/Avirista Midaada)

Namun bukannya memperbaiki terowongan yang sudah ada, justru pemerintah kala itu membangun terowongan baru tak jauh dari Terowongan Niyama buatan Jepang.

“Proyek perbaikan terowongan pun akhirnya dimulai sejak tahun 1979-1986, saat itu proyek besar, tapi sayangnya daripada memperbaiki yang terowongan aslinya, akhirnya membuat terowongan yang debitnya lebih besar,” bebernya.

Usai pembangunan Terowongan Niyama baru ini selesai dibangun, pemerintah orde baru mencoba mengubah nama ‘Niyama’ menjadi Terowongan Sukamakmur. Hal ini terjadi karena pemerintah Orba menganggap nama ‘Niyama’ identik dengan Jepang, dan memicu histori kelam di masa lampau yang kembali.

“Pada tahun 1980-an itu pemerintah kan membangun terowongan lagi tak jauh dari Terowongan Niyama yang asli. Sementara Terowongan Niyama yang asli itu tidak terawat dan tidak digunakan hingga sekarang. Tapi nama daerah itu masih dinamakan Niyama, meski ada upaya menggantinya menjadi Sukamakmur,” terang pria kelahiran Tulungagung ini.

Baca Juga: Dua Kapal Ikan Asing Pelaku IUU Fishing Berhasil Diamankan BAKAMLA dan KKP RI

Sayang, pembangunan terowongan yang dinamakan Terowongan Tulungagung Selatan ini menjadi akhir dari riwayat pemanfaatan Terowongan Niyama yang dibuat Jepang. Lambat laun pun terowongan asli ini pun kian tertutup pendangkalan dan akhirnya ditutup.

“Terowongan Niyama-nya yang asli tidak rusak, masih utuh, hanya memang ditutup dan tidak lagi diurus,” imbuh pengajar Dosen Sejarah UIN R.M. Said Surakarta ini.

Sementara, tiga terowongan baru yang dibuat pemerintah orde baru kali ini dijadikan salah satu titik pengairan utama di Tulungagung.

Terowongan Niyama
(Foto: MPI/Avirista Midaada)

Selain itu terowongan ini juga digunakan sebagai sarana Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Niyama. Dari sanalah terowongan yang awalnya sempat dibuka untuk berwisata kini tak boleh lagi diakses masuk.

Hal ini yang disebut Latif menjadi titik lemah dari pemerintah daerah Tulungagung, di mana bangunan-bangunan yang bersejarah kurang begitu diperhatikan. Hal ini diperparah dengan tidak adanya penyematan identitas plakat-plakat kepada bangunan cagar budaya dan bersejarah yang ada di Kabupaten Tulungagung.

“Harusnya pemerintah lokal bisa menguri-nguri sejarah. Keberadaannya seharusnya penting bagi Pemda tulungagung dan harus bisa dilestarikan. Tapi sejauh ini bangunan-bangunan cagar budaya tidak ada plakat yang mengindetikkan bangunan cagar budaya. Itu di kota saja belum, apalagi kalau di luar kotanya,” katanya memungkasi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini