Share

Pesona Alam Bawah Laut di Desa Wisata Bubohu Bongo Gorontalo, Bikin Memanjakan Mata

INews.id, Jurnalis · Rabu 17 Agustus 2022 17:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 16 408 2648652 pesona-alam-bawah-laut-di-desa-wisata-bubohu-bongo-gorontalo-bikin-memanjakan-mata-hBNSPTI901.jpg Desa Wisata Bubohu Bongo Gorontalo (Dok MPI/Anindita Trinoviana)

DIKENAL dengan sebutan ‘Serambi Madinah’, Provinsi Gorontalo memiliki desa wisata religi, yakni Desa Wisata Bubohu Bongo. Di desa wisata ini terdapat pesantren alam, di mana para santri dan wisatawan bisa mempelajari agama dari memperhatikan lingkungan sekitar.

Untuk tiba di Desa Wisata Bubohu Bongo, Anda memerlukan waktu sekitar 1,5 jam dari Bandara Djalaludin dengan menggunakan mobil.

Jangan khawatir, akses jalannya memadai. Jika dari Kota Gorontalo, Anda akan menempuh jarak sekitar 10 kilometer. Namun, lelah perjalanan tersebut akan hilang saat melihat indahnya pemandangan alam di Desa Wisata Bubohu Bongo ini.

Setibanya di desa wisata, Anda akan melihat hamparan fosil kayu yang dikumpulkan dari berbagai daerah di Gorontalo saat berjalan ke area Kompleks Pesantren Alam. Usut punya usut, fosil kayu tersebut berasal dari pohon yang terpapar oleh mineral kalsit atau silika dengan proses selama jutaan tahun.

infografis

Maka dari itu, fosil kayu ini bukan melapuk, namun semakin keras.

Memasuki Pesantren Alam yang didirikan oleh Almarhum Yosef Tahir Ma'ruf atau Yotama ini, wisatawan dan santri akan diajarkan untuk berguru pada alam, yaitu mengambil tanda-tanda kebesaran Tuhan melalui lingkungan sekitar.

Misalnya, dengan memberi makan merpati menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri pada sang pencipta lewat kebesaran makhluk ciptaannya. Burung merpati yang berada di sekitaran komplek ini telah dipelihara selama hampir 20 tahun.

Suasana asri ditambah dengan memberi makan burung merpati, tentu menjadi pengalaman yang berbeda. Apalagi, di sekitaran komplek ini juga terdapat empat pondok yang berbaris, di mana merupakan ciri khas dari pesantren yang dibangun sejak 2004 ini.

Puas mengenal lingkungan sekitaran Pesantren Alam, tak afdol rasanya jika berada di desa wisata religi, namun tidak mengunjungi masjidnya. Masjid walimah kubah emas yang menjadi ciri khas desa wisata ini berada di atas bukit, ditambah pemandangan hamparan laut biru yang membentang.

Tidak hanya itu, masjid ini pun begitu istimewa karena diresmikan pada pukul 12.12 WITA, 12 Desember 2012 atau jika ditulis secara singkat menjadi 12/12/12.

Masjid ini memiliki nama-nama bulan islam pada batu hitam yang berada di samping 33 anak tangga. Ada lagi, yakni kubah berwarna emas dengan detail jalinan titik di sekelilingnya.

Uniknya, jalinan titik tersebut digambarkan sebagai kue kolombengi. Dengan begitu, warga setempat menyebutnya berbentuk walimah. Walimah ini kerap dibuat saat perayaan Maulid Nabi dan diarak sekeliling desa.

Sebelumnya, dihias terlebih dahulu dengan kuliner khas Desa Bubohu Bongo, yakni kue kolombengi dan kue sukade. Perihal perayaan Maulid Nabi di Desa Wisata Bubohu Bongo ini memang telah ada sejak zaman leluhuran.

Sosok Almarhum Yotama ini lah yang kemudian mengangkat budaya perayaan Maulid Nabi.

“Dari zaman masih leluhuran itu memang sudah ada perayaan Maulid Nabi. Beliau angkat ini budaya tradisi maulid nabi yang khususnya di Bongo ini sampai ke tingkat nasional,” tutur Bachtiar Yunus selaku Kepala Desa Bubohu Bongo.

Tak heran, jika Desa Wisata Bubohu Bungo ini menjadi desa religi pertama yang masuk dalam Anugerah Desa Wisata 2021. Meski bernama religi, wisatawan tak hanya disuguhkan dengan ajaran agama saja, namun juga akan dimanjakan dengan pesona alam, kerajinan masyarakat setempat, dan wisata kulinernya.

Pesona alam dan ragam khas Desa Wisata Bubohu Bongo Pesona alam di Desa wisata yang telah ada sejak 1998 ini dapat dinikmati salah satunya di Pantai Dulanga. Bukan hanya hamparan air lautnya saja, namun adanya geopark dan keanekaragaman hayati laut menjadi daya tarik tersendiri.

Mulai dari geopark yang terdapat tumbuhan dengan nama latin Pemphis Acidula atau pohon mentigi ini berada di laut. Menurut penelitian, pohon tersebut biasanya ditemui di tengah hutan. Hal tersebut menjadi keunikan tersendiri dari Pantai Dulanga.

“Kalo keunikan di Pantai Dulanga, salah satunya ada di pohon ini. Ini nama latinnya pemphis acidula, salah satu pohon yg unik. Uniknya adalah karena dia hidupnya di tengah laut, dan yang lebih unik lagi bahwa tanaman ini setelah dilakukan penelitian oleh tim peneliti bahwa harusnya tanaman ini berada di tengah hutan bukan di tengah laut,” ujar Yamin Nusi Direktur Pantai Dulanga.

Selain geopark dan wahana flying fox, Pantai Dulanga ini juga surganya alam bawah laut. Hal ini dikarenakan, terdapat bunga karang jenis spons dengan ukuran 36 meter. Terumbu karang ini bernama latin Petrosia lignosa atau dikenal Salvador Dali.

Ada juga terumbu karang jenis dark horn yang sehat, serta teobu coral yang sangat melimpah dan besar.

“Salvador ini merupakan salah satu karang raksasa endemik yang ada, khususnya di perairan Gorontalo, yaitu di laut pantai selatan. Selain di Gorontalo, menurut informasi, yang bisa kita lihat lagi di negara luar, yaitu di Amerika Utara,” kata Doddy F Yusuf, instruktur diving.

Beda lagi jika di pantai Bone belango. Di pantai ini, Anda bisa menyelam bersama ikan whale shark atau Rhincodon typus. Namun sayangnya, kegiatan tersebut hanya bisa dilakukan saat musimnya tiba.

Puas melihat dunia bawah laut, kini saatnya mengenal kesenian khas Desa Wisata Bubohu Bongo, yakni tari longgo. Tarian ini merupakan seni bela diri yang telah menjadi olahraga tradisional, nantinya akan menjadi paket wisata, sehingga wisatawan dapat mencoba dan mempelajarinya.

Jangan lupa untuk berburu oleh-oleh dengan membeli produk UMKM. Di Desa Wisata Bubohu Bongo ini, terdapat kain sulam khas bernama karawo yang dibuat oleh para istri nelayan dan sebagai tambahan pemasukan. Bahkan, dari 100 pengrajin karawo yang ada, beberapa di antaranya berhasil menyekelohkan anaknya hingga ke jenjang tinggi.

Penyulaman karawo ini memang telah dilakukan secara turun temurun, biasanya, diajari sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dalam masa pengerjaannya, karawo membutuhkan waktu selama kurang lebih dua minggu untuk satu helainya.

Ada juga pengrajin UMKM lainnya, yakni Faisal yang melukis dengan media dari pelepah pisang dan daun pisang kering. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp350 ribu. Cocok deh buat jadi kenang-kenangan untuk dipajang di dinding rumah.

Jika ketagihan dengan camilan khas dari Desa Wisata Bubohu Bongo, yakni kue kolombengi dan kue sukade, Anda dapat menemukannya dalam pouch yang dijual oleh UMKM setempat. Pilihan yang tepat sebagai buah tangan untuk teman-teman tersayang. Puas belajar dan bermain seharian, Anda dapat beristirahat dengan menyewa homestay seharga Rp1.500.000 per rumah.

Homestay ini menyajikan pemandangan hamparan laut yang berbingkai pelangi. Pesona alam yang cantik ini memang hanya ada #DiIndonesiaAja. Kelengkapan dan kesiapan Desa Wisata Bubohu Bongo ini tak lepas dari bantuan yang diberikan oleh Kemenparekraf setelah mendapat Anugerah Desa Wisata 2021.

Dituturkan oleh Muhlis, Ketua Pokdawis Desa Bubohu Bongo, jika desa Bubohu Bongo mendapatkan bantuan berupa bimbingan teknis untuk para pelaku ekonomi kreatif, juga pembangunan toilet dan internet.

“Alhamdulillah, kami mendapat bimbingan teknis, ini sangat tepat sasaran terhadap UMKM kami yang membutuhkan. Kemudian, ada bantuan toilet dan sudah selesai, ini kami anggap tepat waktu sebagai pembangunannya, karena memang kami butuhkan, termasuk juga internet. Dan ini juga tepat manfaat, karena bisa kami manfaatkan di masyarakat, termasuk UMKM yang ada di desa wisata Buboho Bongo,” ucap Muhlis.

Selain itu, dia juga mengatakan jika merasakan dampak dari jumlah pengunjung yang meningkat. Menurutnya, bisa dikatakan jumlah pengunjung bertambah lima kali lipat. Untuk itu, pendapatan UMKM dapat naik.

Jadi, tunggu apalagi? Yuk berpetualang di Desa Wisata Bubohu Bongo, tapi tetap jaga protokol kesehatan ya di tengah pandemi Covid-19. Desa wisata ini juga difasilitasi dengan kelengkapan protokol kesehatan, seperti tempat mencuci tangan. (Anindita Trinoviana)

1
4

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini