Share

Peringati HUT Kemerdekaan, Yuk Mengenal Tradisi Nguras Sendang Tahunan Kulonprogo

Kuntadi, Jurnalis · Jum'at 19 Agustus 2022 02:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 18 549 2649762 peringati-hut-kemerdekaan-yuk-mengenal-tradisi-nguras-sendang-tahunan-kulonprogo-rQSE0PSk45.jpg Tradisi Nguras Sendang Tahunan (dok MPI/Kuntadi)

WARGA Temanggal, Kalurahan Wijimulyo, Kapanewon Nanggulan Kulonprogo menggelar tradisi Nguras Sendang Tahunan dalam rangkaian Peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia ke-77.

Tradisi ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Prosesi Nguras Sendang ini diawali dengan kirab bregodo dari enam RT yang ada di Temanggal.

Mereka membawa tumpeng lengkap dengan ingkung dan uba rampe menuju ke Sendang Tahunan. Beberapa kesenian lokal juga ikut ditampilkan dalam kirab ini.

infografis

Ketua Panitia, Hari Cahyono mengatakan kegiatan ini merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman dulu. Hanya saja peringatan ini dulunya tidak dilaksanakan di sendang, namun di rumah tokoh adat.

Barulah sejak 2019 dilaksanakan di kompleks Sendang dengan dimeriahkan kirab budaya.

Kemarin dua tahun sempat terhenti karena pandemi Covid-19, dan mulai tahun ini kita meriahkan dengan kirab budaya,” ujar pria yang menjadi Dukuh Temanggal ini.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Asisten Bidang Hukum dan Pemerintahan Setda Kulonprogo, Jazil Ambar Wasan mengaku bangga dengan tradisi yang masih dilaksanakan warga Temanggal. Apalagi kegiatan budaya ini menjadi rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI. 

“Momentum tahun ini tepat dengan peringatan Keistimewaan DIY yang penuh dengan nilai budaya,” katanya.

Jazil mengatakan tradisi ini mengandung ajaran yang baik yang harus dilestarikan.

Untuk itulah warga harus menjaga dan mempertahankan tradisi yang menjadi bagian kegotongroyongan masyarakat. 

Tokoh Warga Temanggal yang juga mantan Kupati Kulonprogo Sutedjo mengatakan, pada era 1960an dulu wilayahnya terserang pandemi penyakit.

Setiap hari ada orang yang sakit mendadak dan meninggal dunia. Bahkan ada satu rumah yang dalam satu hari kehilangan dua anggota keluarganya.

Sejak saat warga melakukan tirakatan, ronda keliling kampung dan tidak ada yang tidur sore. Semuanya berkeliling pedukuhan menjaga wilayahnya tetap aman.

Kaum perempuan juga ikut dengan membawa lira (alat tenun) sambil bersholawat.

“Dulu setiap malam itu ada cahaya api yang misterius dari atas langit. Untuk mengusir warga menggelar doa dan sholawat,” kata Sutedjo.

Sejak itulah dilakukan doa bersama oleh seluruh warga, dan tokoh agama. Setiap habis panen dilakukan doa bersama di lokasi sendang yang hanya panen setahun sekali. Sendang inipun terus dilestarikan dan tidak pernah kering meski kemarau panjang.

“Sendang Tahunan ini kembar ada dua dan sejak dulu dipakai warga untuk mandi dan minum,” katanya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini