Share

Banyak Kesamaan dengan Keraton Solo, Yuk Kepoin Cerita Budaya Keraton Yogyakarta

Erfan Erlin, Jurnalis · Sabtu 27 Agustus 2022 18:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 26 549 2654998 banyak-kesamaan-dengan-keraton-solo-yuk-kepoin-cerita-budaya-keraton-yogyakarta-2lBNRrwBFZ.jpg Keraton Yogyakarta (dok Keraton)

CERITA budaya Keraton Yogyakarta menarik untuk dicermati. Budaya Keraton Yogyakarta yang sampai saat ini masih lestari ternyata memiliki banyak kesamaan dengan Keraton Solo. Ini memang karena keduanya berangkat dari sejarah yang sama.

Cucu Sri Sultan HB VIII, Gusti Kukuh Hestrianing atau sering disebut Gusti Aning mengatakan, sejarah Budaya Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat (Keraton Yogyakarta) memang tidak lepas dari zaman Amangkurat yaitu ketika tanah Jawi masih berdiri Kerajaan Mataram Islam.

Di mana kala itu terjadi perpindahan kerajaan dari Kotagede sampai zaman Paku Buwono (PB) II di mana masih didasari Mataram dengan pola religius. Hanya saja di Yogyakarta dan Solo ada kesamaan konsep Buwono sebagai bentuk pengejawantahan manunggaling kawulo lan gusti.

"Bersatunya raja dengan rakyatnya," ujar Gusti Aning di tempat tinggalnya nDalem Benawan.

Berdirinya kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat tidak lepas dari adanya perjanjian Giyanti pada abad ke 17 tepatnya pada tanggal 13 Februari 1755. Perjanjian Giyanti ditandatangani Kemis Kliwon tanggal 12 Rabingulakir 1680 TJ.

infografis

Perjanjian ini menyatakan Kerajaan Mataram dibagi dua yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat. Kasunanan Solo lantas dipimpin oleh Susuhunan Paku Buwono III dan Ngayogyakarto dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I.

"Sehingga wilayah Surakarta dan Ngayogyakarto sebenarnya awalnya masuk dalam satu kerajaan, Mataram, sebuah kerajaan Islam yang ada pada akhir abad 16," ujarnya.

Baca Juga: Dua Kapal Ikan Asing Pelaku IUU Fishing Berhasil Diamankan BAKAMLA dan KKP RI

Dua hari setelah perjanjian Giyanti atau tanggal 15 Februari 1755, terjadilah pertemuan antara Sultan Yogyakarta dengan Sunan Surakata di Lebak Jatisari. Pertemuan tersebut membahas peletakan dasar kebudayaan bagi masing-masing kerajaan. Dalam peristiwa yang terkenal dengan perjanjian Giyanti tersebut membahas tata cara berpakaian, ada istiadat, bahasa, gamelan dan berbagai hal lainnya.

Dalam perjanjian tersebut, Sri Sultan HB I memilih tetap melanjutkan tradisi lama budaya mataram.

"Sementara Sunan Pakubuwono III sepakat melakukan modifikasi atau menciptakan bentuk budaya baru," ujar dia.

Saat perjanjian Giyanti selesai, Panembahan Senopati ing Ngalogo meminjam tempat di Ambarketawang Godean untuk tinggal. Tempat tersebut sebenarnya transit jenasah dari Pakubuwono sebelum dimakamkan di makam raja Imogiri.

Saat itu, Panembahan Senopati Ing Ngalogo atau Sri Sultan HB I meminjam tempat di sana untuk melakukan kontempelasi atau bersemedi. Dia menginginkan hal yang sama yaitu Sangkan Paraning Dumadi.

"Saat itu beliau pasrah dan berdoa lahir batin untuk menemukan arah yang sama untuk menentukan titik pembangunan keraton Yogyakarta,"ujar dia.

Hingga ketemulah arah pantai selatan sampai Merapi. Tinggal titiknya yang ditentukan, dan titik tersebut ada sebuah dusun kecil yang memiliki sumber mata air, Umbul Pacetokan. Panembahan Senopati merasa ini satu garis yang lurus Utara Selatan.

"Maka dibangunlah keraton. Bangunan pertama yang dibangun adalah bangsal Kencono atau pagelaran,"terangnya.

Kemudian tanggal 13 Maret 1755 Kasultanan Yogyakarta resmi memproklamasikan diri. Di tanggal tersebut Hadeging Nagari Ngayogyakarto Hadiningrat dikumandangkan. Selanjutnya, Sri Sultan HB I memulai pembangunan Keraton Yogyakarta. Tepatnya tanggal 9 Oktober 1755, proses pembangunan Keraton Yogyakarta dimulai. Dan dalam kurun waktu 1 tahun, proses pembangunan Keraton dapat diselesaikan.

Selama proses pembangunan keraton tersebut, Keluarga Sri Sultan HB I tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang.

"Beliau Sri Sultan HB I masuk ke Keraton Yogyakarta memasuki Keraton pada kemis Pahing tanggal 13 Suro 1682 atau tanggal 7 Oktober 1756. Peristiwa ini ditandai dengan sengkalan memet Dwi Naga Rasa Tunggal dan Dwi Naga Rasa Wani," ujar dia.

Bebarengan pembangunan Keraton itulah pihak Belanda juga membangun benteng Vredeburg. Benteng ini dibangun untuk mengawasi kegiatan Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Sehingga Vrederburg didirikan berhadap-hadapan dengan Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat.

Setelah Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat berdiri, kemudian ada negosiasi dengan Pakubuwonon III. Negosiasi tersebut berkaitan dengan pembagian kuliner, budaya, seni tradisi dan juga pakaian.

Hal tersebut dilakukan untuk memperjelas perjanjian Giyanti. Beberapa hal lantas dirubah untuk membedakan antara Yogyakarta dan Solo. Di antaranya ukuran Gamelan di mana untuk Jogja ukurannya lebih kecil dibanding Solo, kemudian tari-tarian di mana geraknya juga dirubah. judul pedalangan dan pusaka juga dirubah.

"Seperti keris misalnya, Pamor keris untuk Jogja ukurannya lebih kecil sementara Solo lebih besar," ujar dia.

Kemudian baju atau kostum di mana Sunan Paku Buwono memilih baju Taqwa (beskap) untuk peranakan. Sementara untuk Yogyakarta, Sri Sultan HB I tidak akan merubahnya yaitu tetap memakai yang lama.

Keputusan tersebut diambil karena sudah turun temurun dikenakan di samping juga karena sesuai arahan sunan Kalijogo. Baju tersebut sampai sekarang dikenal dengan nama baju Surjan. Demikian juga dengan tradisi, keduanya memang memiliki kemiripan.

"Di Jogja dan Solo sama-sama ada Garebeg. Dan untuk suran (suro) sama-sama ada tradisi Topo Bisu Mubeng Beteng. Hanya saja di Solo ditambahi dengan mengarak kerbau bule, Kyai Slamet," katanya.

Kedua kerajaan ini juga memiliki kesamaan dalam Labuhan meskipun tepatnya berbeda. Jika keraton Solo menyelenggarakan labuhan di Gunung Lawu dan Pantai Glagah, namun untuk Keraton Yogyakarta dilaksanakan di Gunung Merapi dan Pantai Parangkusumo.

Beberapa hal lain yang membedakan diantaranya adalah untuk jarik atau kain yang biasa digunakan para abdi dalem sebenarnya memiliki kemiripan dalam sisi corak. Namun untuk Solo lebih dominan warna Cokelat dan untuk Jogja lebih didominasi warna Putih.

"Nah untuk wilayah Gunungkidul yaitu Kapanewon (kecamatan) Semin, Rongkop dan Girisubo masih terpengaruh Solo karena letaknya dekat dengan Solo. Sementara sebagian Piyaman Kecamatan Wonosari, Panggang, Ngawen dan nglipar dekat dengan Solo tetapi kental dengan budaya Ngayogyakarta Hadiningrat," katanya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini