Share

Mengenal Bajapuik, Budaya 'Membeli' Pria dalam Tradisi Perkawinan Adat Minang

Asthesia Dhea Cantika, Jurnalis · Selasa 06 September 2022 18:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 06 406 2661624 mengenal-bajapuik-budaya-membeli-pria-dalam-tradisi-perkawinan-adat-minang-4WP0oonX5B.JPG Ilustrasi pernikahan adat Minang, Sumatera Barat (Foto: Instagram/@nadianesa)

BUDAYA 'membeli' laki-laki dalam tradisi perkawinan adat Minang tak banyak orang tahu. Tak dipungkiri jika setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi perkawinan yang masih dilakukan hingga kini.

Keragaman tradisi ini tak jarang menarik perhatian, salah satunya budaya membeli laki-laki yang termasuk dalam rangkaian tradisi perkawinan adat Minang. Lantas, bagaimana budaya membeli pria pada tradisi perkawinan adat Minang? Berikut Okezone rangkumkan ulasannya;

Istilah budaya dari tradisi perkawinan adat minang disebut Bajapuik. Bajapuik merupakan tradisi perkawinan yang menjadi ciri khas di Pariaman.

Bajapuik menjadi kewajiban bagi pihak keluarga perempuan dengan memberi sejumlah uang atau benda kepada pihak laki-laki (calon suami) sebelum akad nikah dilangsungkan.

Bajapuik dianggap untuk menghargai keluarga pihak laki-laki yang telah melahirkan dan membesarkannya, sehingga saat anak mereka menikah dan meninggalkan rumah, mereka tak merasa kehilangan.

Sebab, umumnya seorang anak laki-laki menjadi tumpuan harapan dari keluarganya, sementara saat menikah menjadi tumpuan harapan keluarga perempuan.

Tradisi Bajapuik

(Foto: Instagram/@faktaunikunik)

Sejarah Bajapuik

Menurut cerita, tradisi ini sudah ada dari kedatangan Islam ke nusantara. Sumber adat Minangkabau adalah Alquran, dan seperti kata pepatah Minang, 'adaik basandi syarak, syarak basandi kitabulloh'. Jadi semua adat Minang berasal dari ajaran Islam.

Orang asli Pariaman adalah penduduk pesisir yang bermata pencaharian nelayan, dan hidup dari hasil melaut di pantai Pariaman. Kemudian datang orang rantau dari daerah Bukittinggi Padang Panjang. Mereka mulai tinggal dan berocok tanam sebagai petani di Pariaman.

Berjalannya waktu, orang rantau itu ingin mengawinkan putri-putri mereka dengan orang Pariaman. Hanya saja, orang Pariaman dulunya miskin, sehingga untuk mengangkat derajat calon suami mereka keluarga wanita pun menjemput dan memberikan sejumlah harta untuk calon suaminya dengan tujuan mengangkat derajat calon suaminya itu.

Setelah menikah, suami tinggal di rumah istrinya, dihormati dan dipanggil dengan hormat sesuai dengan gelarnya, tidak boleh dipanggil dengan nama aslinya.

Proses pemberian Bajapuik

Bila ada orang Pariaman yang memiliki anak gadis yang telah siap menikah, maka orang tuanya akan mencarikan jodoh.

Saat menemukan laki-laki yang dirasa cocok, maka keluarga perempuan akan mengunjungi keluarga laki-laki tersebut yang dinamakan marantak tanggo (menginjak tangga).

Acara ini dimaksudkan sebagai tahap awal seorang wanita mengenal calon suaminya. Bila dirasa cocok, keluarga kedua belah pihak akan berunding dan melaksanakan acara mamendekkan hetongan.

Yakni, keluarga perempuan akan bertandang kembali ke rumah calon mempelai laki-laki (marapulai) dan bermusyawarah.

Namun, sebelum mamendekkan hetongan, orang tua anak daro akan menyampaikan maksud mereka kepada mamak tungganai (paman anak daro dari pihak ibu yang paling tua). Umumnya mamak akan bertanya pada calon anak daro, terkait kesiapan menikah.

Pernikahan Adat Minang

(Foto: Instagram/@rudisaputra.tj)

Sebab, biaya baralek (pesta) beserta isinya termasuk uang japuik akan disiapkan oleh keluarga wanita. Bila keluarganya termasuk sederhana, maka anggota keluarga akan mempertimbangkan menjual harta pusako untuk membiayai pernikahan.

Dalam acara mamendekkan hetongan, kedua belah pihak membicarakan tentang besarnya uang japuik dan berbagai persyaratan lainnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan batimbang tando (meminang). Pada hari itu keluarga perempuan akan datang ke rumah laki-laki dengan membawa berbagai macam persyaratan yang telah dibicarakan sebelumnya

Dalam acara ini calon mempelai laki-laki dan perempuan menerima tanda bahwa keduanya akan menikah. Bila memandekkan hetongan sudah selesai, pembicaraan akan meningkat terkait masalah uang japuik, mahar, dan hari pernikahan (baralek).

Setelah itu, dilanjutkan dengan pepatah petitih yang diwakili oleh kapalo mudo anak daro (pengantin perempuan) dan kapalo mudo marapulai (pengantin laki-laki). Kapalo mudo merupakan orang-orang yang mengerti tentang pepatah minang. Jalannya acara perkawinan bergantung dari percakapan kapalo mudo ini.

Selanjutnya, acara menetapkan uang jemputan dan uang hilang. Jika marapulai adalah orang keturunan bangsawan atau mempunyai gelar, maka nilai japuiknya akan tinggi. Selain itu, nilai uang japuik juga ditentukan oleh tingkat pendidikan, pekerjaan dan jabatan marapulai.

Besar uang japuik ditentukan dalam uang rupiah yang nilainya sama dengan 30 ameh (emas), dimana satu ameh setara dengan 2,5 gram emas. Semakin tinggi nilai uang japuik yang diberikan, maka menunjukkan semakin tinggi status sosial marapulai.

Setelah uang japuik diberikan, acara selanjutnya adalah acara alek randam (persiapan) dan malam bainai. Setelah semua persiapan usai, maka pada hari yang telah ditentukan keluarga anak daro yang terdiri dari mamak, ayah, kakak laki-laki akan menjemput pengantin laki-laki (marapulai) di rumahnya dengan membawa pakaian pengantin serta persyaratan termasuk uang japuik.

Pernikahan Adat Minang

(Foto: Instagram/@nadianesa)

Di rumah marapulai, keluarga marapulai telah menunggu. Mamak dari anak daro akan membuka percakapan dan diakhiri dengan membawa marapulai, sedangkan uang japuik akan diserahkan kepada ibu marapulai.

Marapulai pun dibawa ke tempat berlangsungnya akad nikah. Setelah menikah, acara selanjutnya pesta perkawinan (baralek). Dan dilanjutkan dengan kedua pengantin bersanding di rumah anak daro, maka dengan berpakaian adat lengkap dan diiringi dengan kerabat, membawa makanan adat.

Para anggota keluarga mengunjungi rumah mertua (mintuo) anak daro yang disebut juga manjalang mintuo. Nah, pada momen ini uang japuik akan dikembalikan dalam bentuk perhiasan kepada anak daro yang terkadang jumlahnya dilebihkan oleh ibu marapulai.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini