Share

Kisah Kota Bajak Laut Terkutuk yang Tenggelam ke Dasar Laut Akibat Amukan Alam

Sri Latifah Nasution, Jurnalis · Selasa 13 September 2022 19:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 12 406 2665753 kisah-kota-bajak-laut-terkutuk-lalu-tenggelam-ke-dasar-laut-oleh-amukan-alam-TBd12F5XP3.jpg Port Royal, kota yang tenggelam di Laut Karibia, Jamaika (Foto: Texas A&M University via sci.news)

PORT Royal pernah jadi salah satu kota terbesar di Jamaika pada abad ke 17. Sempat menjadi pusat perkapalan dan perdagangan di Laut Karibia, kota ini kemudian runtuh dan tenggelam di dasar laut sehingga dijuluki juga sebagai Pompeii-nya Karibia.

Port Royal kala itu adalah kota terkaya sekaligus “terkutuk”. Maklum, kota ini penuh kejahatan, prostitusi, dan sarang bajak laut. Namun, kejayaannya sirna akibat amukan alam.

Dalam buku Atlas of Vanishing Places: The Lost Worlds As they Were And As They Are Today yang ditulis oleh penulis dari Inggris, Travis Elborough mengungkapkan penyebab menyusutnya Port Royal.

Melansir dari Mirror, Selasa (13/9/2022), Travis Elborough mencatat bagaimana perubahan iklim merusak berbagai bagian alam, menyebabkan sungai dan hutan hujan menyusut pada tingkat yang mengkhawatirkan, dari Cekungan Kongo ke Everglades dan Laut Mati.

Port Royal Jamaika adalah salah satunya. Di bawah pelabuhan tersebut diyakini terdapat sekumpulan bangkai kapal terbesar dunia, dan seluruh kota masuk ke dalam gelombang.

Kapal-kapal terjebak jauh ke dalam lumpur di bawah permukaan air, menjadi tempat berlindung bagi ikan, dan perlahan hancur karena gelombang asin air laut.

Kapal yang dulu megah akhirnya karam pada akhir abad ke -17, ketika Port Royal di pantai tenggara Jamaika menjadi ibu kota Karibia yang begitu ramai.

Menurut Elborough, di tempat inilah para bajak laut menurunkan barang jarahan, lalu menuju ke kedai bordil untuk mabuk-mabukan dan menikmati pelacur.

Pada tahun 1662, keberuntungan kota tersebut terhenti ketika serangkaian bencana melanda tak terkendali.

Kebakaran besar, angin topan, dan gempa bumi membuat wilayah kota menyusut, menyisakan area yang hanya seluas 100 meter.

Gempa itu membuat 33 hektar kota tenggelam ke laut, empat dari lima benteng hancur dan tenggelam, serta sebanyak 2.000 orang tewas, sebelum para penjarah mulai mengambil sisanya.

Port Royal kemudian dibangun kembali selama beberapa dekade hingga tahun 1722, ketika bajak laut paling sukses dalam sejarah, Kapten Bartholomew Roberts, dibunuh oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris.

Roberts telah menghabiskan karirnya merebut lebih dari 400 kapal selama empat tahun. Ia juga dikenal karena menciptakan kode bajak lautnya sendiri dan pencetus bendera tengkorak dan tulang bersilang.

Tiga kapal yang diperintahkan Roberts pada tahun 1722 diambil sebagai hadiah dan berlayar ke Port Royal untuk dijual.

Sebelum mereka dapat dikalahkan dan keuntungan masuk ke pundi-pundi Inggris, bencana lain datang melanda Jamaika dan menghancurkan lebih dari 50 kapal di pelabuhan.

Kapal-kapal milik Roberts, seperti kapal 40-gun, Royal Fortune, 24 – gun, dan Little Ranger tenggelam ke dasar laut, sementara the Great Ranger rusak dan tenggelam karena kurangnya perbaikan.

Percobaan untuk membangun kembali Port Royal dan dermaganya terhambat karena bencana alam, termasuk badai Charlie pada tahun 1951.

Saat ini, tempat tersebut menjadi tempat para penyelam scuba untuk melihat sisa-sisa kehidupan yang telah ditelan waktu.

Ilustrasi

Pengunjung Royal Port menceritakan sensasi aneh saat melayang di atas atap bangunan yang tenggelam, dan berenang di antara kapal bajak laut dengan kedalaman 40 kaki dari atas permukaan laut.

Tempat yang dijuluki Pompeii bawah air ini sudah ditetapkan sebagai Situs Warisan Nasional pada tahun 1999.

Sekarang, izin khusus diperlukan untuk dapat menyelam di area reruntuhan Port Royal untuk melindungi bangkai kapal agar tidak semakin hancur ke dasar laut.

Barang-barang yang ditemukan selama bertahun-tahun bisa dilihat di Museum Sejarah dan Etnografi di Institut Jamaika di Kingston.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini