Share

Kenapa Selera Makan Bisa Berubah saat Naik Pesawat? Simak Penjelasannya

Sri Latifah Nasution, Jurnalis · Minggu 25 September 2022 10:46 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 23 406 2673827 kenapa-selera-makan-bisa-berubah-saat-naik-pesawat-simak-penjelasannya-aHFgJ07ZHI.jpg Ilustrasi makan di pesawat (Foto: Better Travel Insurance)

KETIKA berada di dalam pesawat, indra perasa tidak akan bekerja seperti biasanya. Beberapa makanan mungkin akan terasa asing di lidah. Namun, pernahkan Anda menyadari atau berpikir mengapa selera Anda di dalam pesawat cenderung berubah?

Direktur Inflight Dining & Retail di American Airlines, Russ Brown mengatakan bahwa indra perasa dan indra penciuman adalah hal pertama yang terpengaruh pada ketinggian 30 ribu kaki.

“Rasa adalah kombinasi keduanya, dan persepsi kami tentang rasa asin dan rasa manis turun saat berada dalam kabin bertekanan,” kata Brown seperti dilansir dari BBC, Minggu (25/9/2022).

Segala sesuatu dalam penerbangan ternyata mempengaruhi selera makan Anda.

“Ada beberapa alasan untuk ini, kurangnya kelembaban, tekanan udara yang lebih rendah, dan kebisingan,” kata Charles Spence, profesor psikologi eksperimental di Universitas Oxford.

Saat Anda menginjakkan kaki di pesawat, suasana kabin mempengaruhi indra penciuman Anda terlebih dahulu. Kemudian, saat pesawat semakin tinggi, tekanan udara dan tingkat kelembaban di kabin menurun.

Pada ketinggian 30 ribu kaki, kelembabannya kurang dari 12%, yang berarti lebih kering dari kebanyakan gurun.

Menurut sebuah studi 2010 yang dilakukan oleh Institut Fraunhofer Jerman untuk Fisika Bangunan, kombinasi antara kekeringan dan tekanan rendah mengurangi sensitivitas indra perasa Anda terhadap makanan manis dan asin sekitar 30%.

Ilustrasi

Hal tersebut juga ditegaskan oleh maskapai penerbangan Jerman, Lufthansa.

Untuk menyelidiki hal ini, para peneliti menggunakan laboratorium khusus dan mengurangi tekanan udara yang mensimulasikan jelajah pada ketinggian 35 ribu kaki (10,6 km), serta menyedot uap air dari udara dan mensimulasikan kebisingan mesin. Itu bahkan membuat kursi bergetar dalam percobaan untuk meniru pengalaman makan dalam penerbangan.

Menariknya, penelitian ini menyimpulkan bahwa rasa asam, pahit dan pedas hampir tidak terpengaruh.

Tapi bukan hanya tentang selera saja, 80% dari apa yang dipikirkan tentang rasa, sebenarnya adalah bau.

Jadi, maskapai penerbangan harus memberikan makanan dalam penerbangan dengan sensasi ekstra, dengan mengasinkan dan membumbuinya lebih banyak dari yang pernah dilakukan restoran di darat.

“Seringkali resep dimodifikasi dengan tambahan garam atau bumbu untuk memperhitungkan suasana makan di kabin,” kata Brown dari American Airline.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Sementara Gerry McLoughlin, koki dari maskapai saingannya, United, mengatakan bahwa dia harus menggunakan rasa dan rempah-rempah yang segar untuk membuat makanan dalam penerbangan terasa lebih kuat.

“Sering kali produk akhir tidak seperti yang dibayangkan, karena hal-hal di luar kendali mereka. Kami merancang makanan dengan bahan-bahan dan pengemasan yang kami tahu dapat bertahan dari proses panjang antara persiapan dan penyajian makanan,” kata Brown.

Jadi, untuk meningkatkan kualitas makanannya, maskapai mulai bereksperimen dengan menguji makanan di lingkungan bertekanan atau di atas pesawat sebenarnya untuk meniru apa yang akan dialami penumpang.

“Anda tidak dapat menggunakan resep yang sama untuk makanan maskapai dengan yang akan Anda gunakan di darat,” kata David Margulies dari Sky Chefs, sebuah perusahaan yang mengkhususkan diri dalam katering untuk maskapai penerbangan.

Untuk kelas Utama dan Bisnis, Sky Chefs mempekerjakan tim koki eksekutif yang bekerja dengan pelanggan maskapai penerbangan. Sebagian besar makanan ditempatkan dalam rak khusus dan disimpan dalam keadaan dingin sampai dipanaskan kembali dalam penerbangan.

Maskapai terus menemukan cara yang lebih baik untuk meneliti persiapan makanan di ketinggian. Singapore Airlines, misalnya, bekerja sama dengan penyedia katering dalam penerbangan mereka, SATS, yang memiliki simulasi kabin pesawat di pusat katering dalam penerbangan mereka di Bandara Changi Singapore, tempat makanan dimasak dan diuji dalam kondisi bertekanan rendah.

Meski begitu, beberapa maskapai memanfaatkan rasa umami yang tidak terpengaruh oleh ketinggian. Umami adalah rasa kelima atau biasa dikenal dengan rasa gurih, yang bisa didapatkan dari makanan, seperti sarden, rumput laut, jamur, tomat, dan kecap.

Dalam pendekatan yang lebih radikal, koki selebritis Inggris, Heston Blumenthal membagikan semprotan hidung kepada penumpang British Airlines untuk membersihkan sinus sebelum mereka makan. Namun, pendekatan tersebut terbukti tidak populer.

Selain memiliki menu yang kaya umami, British Airlines juga memperkenalkan soundtrack untuk menyesuaikan rasa makanan dengan menggunakan headphone peredam bising, kata Spence.

Spence juga mengatakan bahwa beberapa maskapai penerbangan menyelidiki apakah mengganti peralatan makan dapat membantu, karena ketika peralatan makan berat digantikan dengan pisau dan dan garpu yang ringan dari plastik, itu membuat rasa makanan menjadi lebih buruk.

Bagi penumpang yang ingin minum anggur, maskapai penerbangangan mengatasi masalah ini dengan memilih anggur yang memiliki kadar asam dan tanin yang rendah.

“Anggur (wine) yang di daratan rasanya seperti buah, tiba-tiba encer, pahit, dan asam,” kata Liam Steevenson, kepala distributor anggur Inggris Red & White.

“Karena kelembaban yang sangat rendah mengubah persepsi langit-langit kita, mungkin lebih baik minum anggur di awal penerbangan daripada menjelang akhir, ketika kita lebih kering,” tambahnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini