Share

Menguak Asal Usul Nasi Jangkrik, Makanan Favorit Sunan Kudus

Rina Anggraeni, Jurnalis · Minggu 02 Oktober 2022 10:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 30 301 2678312 menguak-asal-usul-nasi-jangkrik-makanan-favorit-sunan-kudus-27mizobbZ9.jpg Nasi jangkrik (ANTARA/Yusuf Nugroho)

NASI jangkrik merupakan makanan favorit Sunan Kudus. Sajian tradisional ini juga kegemaran Kyai Telingsing, tokoh penyebar Islam di Kudus yang semasa dengan Sunan Kudus.

Nasi jangkrik jadi salah satu makanan khas Kudus, tapi mungkin namanya tak setenar soto kudus maupun lentog tanjung. Tapi nasi jangkrik punya cerita tersendiri.

Pada dasarnya nasi jangkrik tak ada data yang secara valid sebagai terkait asal-usul di balik kata “jangkrik” yang menjadi nama bagi menu warisan Sunan Kudus ini.

Namanya memang nasi jangkrik. Tapi, jangan bayangkan kalau nasinya itu pakai menu jangkrik, serangga kerabat dekat belalang yang sering bersuara keras di malam hari. Sama sekali tak ada jangkrik di dalam nasi.

Lauk nasi jangkrik adalah daging sapi atau kambing yang dimasak dengan bumbu rempah dan santan. Jadi rasanya sangat lezat.

Lalu kenapa dinamakan nasi jangkrik?

Menurut cerita, nama jangkrik telah digunakan oleh Sunan Kudus semasa hidupnya. Dikisahkan, pada suatu hari, Sunan Kudus dan Kyai Telingsing berkumpul di tajug Menara Kudus bersama dengan para wali lainnya.

Sementara, istri Sunan Kudus menyiapkan sebuah masakan yang sekarang populer dengan nama nasi jangkrik sebagai sajian.

Kelezatan hidangan tersebut nyatanya membuat para wali terpikat hingga terdengar suara celetukan. Konon celetukan itu datang dari Kyai Telingsing. “Jangkrik, masakan apa iki, kok enake pol,” demikian kira-kira suara celetukan itu, yang memiliki arti “Jangkrik, masakan apa ini, kok enak sekali.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Dalam masyarakat Jawa, kata “jangkrik” biasa dijadikan sebagai penggambaran semacam pisuhan (makian) tapi lebih halus dan cenderung positif sebagai penghangat suasana.

Celetukan Kyai Telingsing sendiri berarti pujian akan kelezatan masakan hasil olahan istri Sunan Kudus yang sedang disantapnya. Sehingga dari situlah, konon nama nasi jangkrik berasal.

Namun, versi lain menyebutkan bahwa penamaan nasi jangkrik berasal dari bawang goreng yang ditaburkan di atas nasi jangkrik. Sekilas, bawang goreng itu memiliki bentuk mirip sayap jangkrik yang berwarna mengkilap kecoklatan. Maka dari situlah konon masakan itu dinamakan nasi jangkrik.

Nasi jangkrik oleh masyarakat Kudus dijadikan sebagai hidangan yang dibagikan secara gratis kepada sesama saat puncak tradisi buka luwur atau pelepasan kain selubung makam Sunan Kudus yang diadakan pada setiap tanggal 10 Muharram (Asyura).

 Ilustrasi

Luwur merupakan kain kelambu atau selubung penutup makam. Dalam tradisi buka luwur, luwur yang menutupi makam Sunan Kudus diganti baru.

Hingga kini pembagian nasi jangkrik menjadi salah satu bagian dalam tradisi buka luwur yang masih terus dilestarikan. Pembagian nasi jangkrik sendiri bertujuan untuk menumbuhkan rasa saling berbagi terhadap sesama, terutama kepada yang membutuhkan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini