Share

Rupanya Ini Alasan Kenapa Pilot Takut Lintasi Langit Tibet

Anya Azalia Faustina, Jurnalis · Sabtu 01 Oktober 2022 08:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 30 406 2677911 rupanya-ini-alasan-kenapa-pilot-takut-lintasi-langit-tibet-Llhd2d3dtt.JPG Tibet (Foto: IANS File Photo)

PESAWAT terbang merupakan alat transportasi favorit traveler karena sangat efisien dalam hal waktu perjalanan. Dalam dunia penerbangan, nyatanya tidak semua wilayah di bumi ini bisa dengan bebas dilintasi si 'burung besi', termasuk langit Tibet di antaranya.

Nyaris seluruh pesawat di dunia kerap menjauhi wilayah Tibet dan memilih jalur lain dengan mengelilinginya. Seolah wilayah tersebut merupakan wilayah terlarang untuk dilintasi.

Lalu mengapa hal ini bisa terjadi? Banyak sekali alasan mengapa pesawat tidak berani melintasi wilayah Tibet. Tibet merupakan salah satu wilayah kosong terbesar di dunia. Setelah Antartika dan bagian utara Greenland, dataran tinggi Tibet adalah tempat yang tidak ramah bagi manusia untuk ditinggali.

Wilayah Tibet memiliki luas 1.228.400 km. Tapi, populasinya hanya 3.5 juta jiwa saja. Sedikitnya jumlah penduduk di sini dikarenakan rata-rata tinggi datarannya 4.000-5.000 meter di atas permukaan laut. Membuat dataran tinggi ini menjadi wilayah geografis tertinggi di dunia, dan mendapat julukan sebagai atap dunia.

Julukan ini sepertinya tepat karena atap dunia ini menjadi salah satu rintangan terbesar di dunia bagi penerbangan selama beberapa dekade. Percobaan melintasi wilayah ini pertama kali terjadi pada Perang Dunia II ketika sekutu yang kemudian dikenal sebagai India Britania berusaha mengangkut perbekalan menuju China untuk melawan Jepang.

Infografis Kaca Pesawat

Rutenya sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya bagian timur India menuju Kunming di China dengan jarak sekitar 840 km. Tapi karena mereka terbang melintasi pegunungan terpencil dan dataran tinggi Tibet, sang pilot mengalami turbulensi.

Kecepatan angin lebih dari 200 mil per jam, sementara temperaturnya cukup dingin untuk bisa membekukan bahan bakar pesawat.

Menghadapi cuaca yang tidak bisa ditebak dan hampir tak ada bandara darurat, membuat penerbangan ini menjadi nahas. Belum lagi mereka juga harus menghadapi serangan tiba-tiba dari Jepang. Semua bahaya itu membuat jalur ini dikenal sebagai jalur maut. Dalam kurun waktu 42 bulan, ada sekitar 594 pesawat jatuh dan kurang lebih dari 1.659 hilang di pegunungan dan mereka tidak pernah bisa ditemukan lagi.

Sebagian besar kehilangan ini disebabkan oleh bahaya yang dihadapi pilot dan bukan disebabkan oleh aksi dari musuh. Untungnya, dalam penerbangan modern, dataran tinggi Tibet telah dibuka secara bertahap dalam beberapa dekade setelah Perang Dunia II. Bandara pertama di Tibet dibuat pada 1956.

Jadi, jika terkadang ada pesawat melintasi daerah Tibet memang benar, tapi untuk penerbangan internasional, pilot tetap akan menjauhi wilayah ini.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Setidaknya, ada 3 alasan mengapa dunia penerbangan modern masih menghindari wilayah ini.

1. Keadaan darurat

Tinggi rata-rata dataran tinggi Tibet adalah lebih dari 14.000 kaki, dan maskapai biasanya melintasi dalam ketinggian 30 ribu kaki. Dalam keadaan normal memang tidak masalah, tapi dalam keadaan darurat seperti kerusakan mesin, protokol keselamatan maskapai biasanya mengharuskan pesawat turun ke jarak 10 ribu kaki. Risikonya, mereka hanya akan menabrak gunung di ketinggian 14 ribu kaki.

2. Nihil penduduk

Karena wilayah tersebut tidak berpenduduk, makanya tidak ada permintaan penerbangan yang besar ke wilayah tersebut.

Infografis Negara

Penerbangan internasional jarak jauh antara Eropa dan Asia akan menghindari terbang di atas Tibet karena mereka tidak ingin mengambil risiko mengalami keadaan darurat.

3. Turbulensi parah dan risiko bahan bakar membeku

Saat angin kencang bergerak melewati dataran tinggi dan pegunungan, angin akan bergerak menyerupai gelombang. Jika ada pesawat melintas melewati gelombang angin ini, maka turbulensi akan menjadi sangat kuat yang bisa memicu situasi darurat terjadi. Dan akhirnya, masalah terjadi pada bahan bakar pesawat.

Secara teori, bahan bakar akan membeku jika temperatur mencapai angka di bawah -40 derajat. Kondisi cuaca dingin yang ekstrem itu jarang sekali terjadi saat pesawat sedang terbang. Tapi, temperatur udara di atas dataran tinggi Tibet memang sangat dingin dan bisa mencapai angka tersebut bahkan bisa lebih buruk lagi.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini