Share

Hari Hewan Sedunia, Intip Keunikan 6 Kawasan Konservasi Satwa di Indonesia

Sri Latifah Nasution, Jurnalis · Selasa 04 Oktober 2022 17:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 04 408 2680339 hari-hewan-sedunia-intip-6-kawasan-konservasi-satwa-di-indonesia-57PtdMknDN.jpg Pusat Konservasi Gajah di Taman Nasional Way Kambas Lampung (Sindonews/Aldhi Chandra)

WORLD Animal Day atau Hari Hewan Sedunia diperingati tiap 4 Oktober untuk meningkatkan kesadaran dan meningkatkan kesejahteraan hewan. Ini juga sebagai momentum menjaga habitat satwa-satwa yang terancam punah.

Populasi satwa liar setiap tahunnya semakin menurun karena habitat mereka terus diganggu oleh manusia serakah. Pembabatan hutan, alih fungsi lahan, hingga perburuan yang dilakukan manusia menjadi faktor merosotnya jumlah satwa di alam.

Untuk mencegah kepunahan satwa dilindungi di Indonesia, dibuat kawasan khusus untuk melestarikan serta menjamin kelangsungan hidup satwa-satwa yang terancam punah, seperti suaka margasatwa dan juga taman nasional.

Selain sebagai kawasan tempat pelestarian satwa-satwa langka, tempat konservasi juga bisa dijadikan sebagai tempat penelitian, pendidikan, serta wisata secara terbatas.

Berikut 6 tempat konservasi hewan langka yang ada di Indonesia berdasarkan beberapa sumber.

Suaka Margasatwa Sermo, Kulon Progo

Suaka Margasatwa Sermo ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.3112/MENHUT-VII/KUH/2014 dengan luas sekitar 184,99 ha.

Ilustrasi

Waduk Sermo

Suaka Margasatwa Sermo terdiri dari flora dan fauna. Fauna suaka margasatwa yang terletak di Kulon Progo ini terdiri dari 28 jenis burung, lima di antaranya merupakan burung yang dilindungi, seperti elang brontok, elang bido, burung madu kelapa, cekakak sungai, dan cekakak Jawa.

Selain itu, terdapat juga jenis mamalia, seperti babi hutan dan kijang, serta herpetofauna atau binatang melata yang terdiri dari jenis amfibi dan reptil, sebanyak 19 jenis.

Suaka Margasatwa Rawa Singkil, Aceh

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 166/Kpts-II/1998, kawasan rawa Singkil memiliki luas 102.500 ha. Namun, pada tahun 2015, dalam Surat Keputusan Nomor 103/MenLHK-II/2015, Menteri Lingkungan Hidup mengurangi luasnya menjadi 81.338 ha, dan sekarang kawasan tersebut menjadi salah satu kawasan populasi orangutan terpadat di Sumatera.

Dengan area yang begitu luas, Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Gunung Leuser ini melindungi empat habitat hewan langka dunia, yaitu orang utan, harimau Sumatera, badak Sumatera, dan gajah Sumatera.

Suaka margasatwa ini juga telah menjadi situs warisan dunia hutan hujan tropis Sumatera. Tempat ini juga menjadi perlindungan bagi ekosistem gambut.

Taman Nasional Gunung Tambora, NTB

Taman Nasional Gunung Tambora terletak di kawasan Gunung Tambora, Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Kawasan Gunung Tambora sendiri baru ditetapkan menjadi Taman Nasional, pada April 2015 oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan kala itu, Siti Nurbaya. Penetapan tersebut berdasarkan SK No: SK.111/MenLHK-II/2015.

Sebelum menjadi Taman Nasional, kawasan Gunung Tambora merupakan kawasan konservasi sejak 1937.

Taman Nasional Gunung Tambora memiliki luas 71.645,74 ha dengan ketinggian sekitar 170 – 2821 mdpl.

Jenis fauna yang terdapat dalam Taman Nasional ini antara lain punai Flores, cekakak punggung putih, pergam punggung hitam, celepuk wallacea, burung madu mentari, dan lainnya.

Sementara, flora yang tumbuh di sini adalah kalango, duabanga, dan jenis cemara gunung, serta beberapa pohon liar.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Suaka Margasatwa Pulau Bawean, Jawa Timur

Berlokasi di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, Suaka Margasatwa Pulau Bawean memiliki panjang jalur batas kawasan sekitar 116,6 km. Suaka margasatwa yang memiliki ekosistem hutan musim ini ditunjuk sebagai cagar alam berdasarkan SK: Mentan No. 762/Kpts/Um/12/1979, pada Desember 1979 dengan luas 3.831,6 ha.

Kawasan ini merupakan habitat dari satwa endemik rusa bawean (Axis kuhlii). Selain itu, di sini juga terdapat babi hutan, monyet ekor panjang, musang, landak, kalong, dan lainnya.

Tumbuhan seperti mahoni, kenari, kayu ape, pangopa, suren, kalpo-kalpo juga bisa ditemukan di Suaka Margasatwa Pulau Bawean.

Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh

Secara administratif pemerintahan, Taman Nasional Gunung Leuser yang memiliki luas 830.268,95 ha ini terletak di 2 provinsi, yaitu Aceh (75,27%) dan Sumatera Utara (24,73%). Taman Nasional Gunung Leuser diresmikan pada 6 Maret 1980, bersama 4 kawasan suaka alam lainnya, melalui SK Menteri Pertanian Nomor 811/Kpts/Um/II/1980.

Taman nasional ini sudah menyabet beberapa gelar, baik nasional maupun internasional, seperti Cagar Biosfer (1980), ASEAN Heritage Park (1984), Tropical Rainforest Heritage of Sumatera yang merupakan warisan dunia (2004), dan Kawasan Hutan Lindung Nasional (2008).

Ilustrasi

Gunung Leuser merupakan habitat dari mamalia, seperti burung, reptil, amfibi, ikan, dan invertebrata. Dari sekitar 129 spesies mamalia besar dan kecil yang ada di Sumatera, 65% di antaranya berada di di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

Empat spesies langka, yaitu harimau Sumatera, gajah Sumatera, orang utan Sumatera, dan badak Sumatera juga terdapat di kawasan ini.

Taman Nasional Way Kambas, Lampung

Taman Nasional Way Kambas adalah salah satu dari dua kawasan konservasi yang berbentuk taman nasional di Provinsi Lampung, selain Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Diresmikan pada 26 Agustus 1999 melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 650/Kpts-II/1999, dengan luas sekitar 125,631.31 ha.

Taman Nasional Way Kambas terletak di ketinggian 0-50 mdpl dengan tipografi datar dan landai. Kawasan ini memiliki empat tipe ekosistem utama, yaitu ekosistem hutan hujan dataran rendah, ekosistem hutan rawa, ekosistem mangrove, dan ekosistem pantai.

Kawasan Taman Nasional ini melindungi habitat berbagai satwa liar, seperti harimau Sumatera, tapir, rusa sambar, kijang, gajah Sumatera, dan beruang madu. Saat peresmiannya, badak Sumatera belum ditemukan, sehingga tidak menjadi pertimbangan untuk penetapannya.

Dari jenis satwa tersebut, yang masih terjadi dengan baik hingga sekarang adalah harimau Sumatera, gajah Sumatera, badak Sumatera, dan beruang madu atau disebut juga The Big Five Mammals.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini