Share

Mengenal Denisovan Manusia Purba Tertua di Sulawesi Berusia 7.200 Tahun

Sri Latifah Nasution, Jurnalis · Rabu 19 Oktober 2022 02:40 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 18 406 2689767 mengenal-denisovan-manusia-purba-tertua-di-sulawesi-berusia-7-200-tahun-SY2AybeIgb.jpg Kerangka manusia purba Denisovan ditemukan di sebuah gua di Maros, Sulawesi Selatan (Sindonews)

SPESIES Denisovan dipercaya sebagai manusia purba tertua di Sulawesi. Kerangka Denisovan yang diperkirakan berusia 7.200 tahun pernah ditemukan di sebuah gua di Leang Paningnge, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada 2015.

Kerangka itu diberi nama Besse, nama yang biasa disematkan untuk anak perempuan dalam tradisi Bugis-Makassar. Dari kerangka yang diteliti oleh tim ilmuwan itu diketahui kalau manusia purba itu berkelamin perempuan. Diperkirakan meninggal dalam rentang usia 17-18 tahun. Kondisi jasadnya tertekuk berbaring, orientasi utara-selatan.

Berdasarkan hasil identifikasi, kerangka tersebut dari spesies Denisovan, manusia purba yang berkembang di wilayah Siberia dan menyebar.

Kerangka tersebut pun diangkat pada tahun 2018 untuk dilakukan penelitian.

“Rasanya penuh semangat. Selama ini, pengakatan rangka sangat jarang. Apalagi waktu itu kami sudah perkirakan usia 7.000 tahun lalu, karena asosiasi temuan alat batunya,” kata Basran Burhan, kandidat doktor untuk Geoarkeologi di Griffith University, Australia.

Dari penelitian terungkap bahwa kerangka tersebut merupakan DNA manusia purba pertama di Kawasan Wallacea, Sulawesi Selatan. Namun menariknya, Besse tidak memiliki nenek moyang yang jelas dengan manusia modern yang tinggal di pulau itu.

Selain itu, juga terdapat DNA suku Onge, suku pemburu-pengumpul di Kepulauan Andaman, yang hingga saat ini masih ada. Meskipun Besse juga berasal dari suku yang sama, yang dikenal sebagai Toaleans, dari mana serta kapan mereka tiba di Wallacea masih menjadi perdebatan di kalangan arkeolog.

“Jadi, manusia Pangingnge ini berada di tengah. Dia memiliki DNA manusia pra-modern hingga manusia modern,” kata Basran.

Temuan tersebut didapatkan berdasarkan DNA yang diekstraksi dari tulang di belakang bagian telinga tengkorak, yang disebut petrous. Sampel tulang tersebut kemudian dikirim ke Institut Max Planck, Jerman. Dari keseluruhan sampel yang dikirim, hanya 2% ekstraksi yang dapat diselamatkan, sementara sebagian besar lainnya terdegradasi dan tidak dapat dipulihkan.

 Dalam ekstrak DNA yang didapat dari kerangka tersebut, ditemukan DNA manusia yang berasosiasi dengan budaya Hoabinian pada penggalian di Laos dan Malaysia, yang berkembang pada 40.000-4.000 tahun lalu.

Follow Berita Okezone di Google News

Meskipun hanya dengan ekstraksi yang rendah, namun, jumlah tersebut cukup untuk menyelidiki nenek moyang manusia Sulawesi. Genetik yang ada dalam DNA Besse ternyata lebih mirip dengan susunan genetik orang-orang asli Australia dan Papua.

“Kerangka tersebut ternyata mengandung DNA yang berbeda dengan DNA manusia purba yang selama ini kita pahami sebagai asal-usul manusia di wilayah Indonesia. Ilmu pengetahuan menyebut manusia Indonesia berasal dari dua asal-usul, yaitu Afrika dan Taiwan. Temuan DNA Denisovan membuktikan bahwa ada asal-usul ketiga,” ungkap Akin Duli, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.

Adanya penemuan kerangka ini memberi pandangan sekilas bagi para arkeolog tentang pemukim paling awal yang meninggalkan daratan Asia, dan memulai perjalannya ke New Guinea dan Australia.

“Para pemburu-pengumpul pelaut ini adalah penghuni paling awal Sahul, benua super yang muncul selama Pleistosen (zaman es), ketika permukaan laut global turun, memperlihatkan jembatan darat antara Australia dan New Guinea,” jelas arkeolog Adam Brumm dari Griffith University.

Ilustrasi

Dosen Arkeologi Universitas Hasanuddin, Iwan Sumatri mengatakan dalam perspektif yang berbeda, penemuan tersebut memperlihatkan tidak ada satupun yang berhak mengklaim sebagai pemilik atau penduduk asli Indonesia.

Selain temuan kerangka Besse, di gua Paningnge terdapat pula ratusan artefak batu, mikrolit, alat serpih, mata panah, hingga lancipan tulang. Dan yang tidak kalah mengagumkan adalah adanya tulang rahang manusia dengan gigi depan geraham yang masih menempel.

Iwan mengusulkan agar Universitas Hasanuddin membentuk Center for Wallace Studies untuk mengkaji lebih lanjut secara sistematis kekayaan peninggalan prasejarah di wilayah Maros, Pangkep, dan Kawasan sekitarnya, mengingat karst ini menyimpan kekayaan peradaban kuno.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini