Share

Kisah Gentiri, Maling Sakti dari Kediri yang Ditakuti Kompeni Belanda

Dita Mawanda, Jurnalis · Selasa 25 Oktober 2022 21:17 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 24 406 2693721 kisah-gentiri-maling-sakti-dari-kediri-yang-ditakuti-kompeni-belanda-nDW9LEGkPu.jpg Ilustrasi (Shutterstock)

MENGULAS kisah Gentiri, maling sakti mandraguna dari Kediri yang ditakuti kompeni Belanda. Seperti halnya Robon Hood dalam cerita rakyat Inggris, Gentiri mencuri harta milik orang kaya lalu dibagikan ke rakyat miskin.

Alkisah, Ki Boncolono merupakan anak dari Kyai Ageng Pancuran yang memiliki kesaktian tinggi atau sakti mondraguna yang ia gunakan untuk mencuri harta kekayaan milik kompeni Belanda beserta antek-anteknya.

Bukan tanpa sebab, kompeni Belanda melakukan pemerasan kepada rakyat pribumi yang dipaksa menanam kopi, teh, tembakau, dan cengkeh. Hal yang dilakukan tersebut, bertujuan untuk memulihkan kas negara Belanda yang banyak terkuras untuk biaya Perang Jawa (1825-1830). Ki Boncolono yang melihat rakyat tidak berdaya pun, akhirnya tak tinggal diam.

Dalam buku ‘Wali Beranda Tanah Jawa’, peneliti George Quinn menulis Ki Boncolono sebagai pencuri yang ambigu dalam tindak tanduk susilanya, tetapi sakti mandraguna.

Namun jangan salah, Ki Boncolono mencuri bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk orang lain yang sedang kesulitan ekonomi pada saat itu, seperti petani, rakyat jelata, kaum kromo yang ditindas kompeni Belanda.

Ki Boncolono mempraktikkan gaya bandit budiman Berandal Lokajaya yang berada pada masa akhir Kerajaan Majapahit hingga banyak dari masyarakat Kediri yang yakin jika dia adalah Maling Gentiri.

Kembali dalam buku Wali Beranda Tanah Jawa tertulis, jika Maling Gentiri mempunyai saudara tua bernama Maling Kapa. Mereka merupakan dua bersaudara maling sakti yang selalu melakukan aksinya di malam hari, keduanya ialah murid Sunan Ngerang, seorang ulama besar di kawasan pesisir Juwana, Jawa Tengah yang menyasar kepada orang zalim kaya raya.

Aksi penjarahan sempat semakin menjadi, ketika Tumenggung Mojoroto dan Tumenggung Poncolono, serta murid mereka menyatakan bergabung menjadi sekutu Ki Boncolono.

Belanda sangat marah dan memerintahkan antek-anteknya mengerjar hidup atau mati Ki Boncolono. Kekuatan sakti beliau sukses mempersulit para antek Belanda menangkapnya, bahkan ketika berhasil dikepung beliau selalu berhasil meloloskan diri.

Konon, pencuri budiman ini cukup mengandalkan seberkas cahaya bisa menyusup ke dalam bangunan melalui lobang sekecil apa pun. Ki Boncolono cukup merapatkan diri ke tembok, tiang, atau pohon didekatnya, dia akan lenyap dalam hitungan singkat. Serta, dirinya dikenal kebal senjata, seperti tahan tembakan peluru.

“Dia bisa hidup lagi ketika tubuhnya menyentuh tanah,” begitu tertulis di buku Wali Berandal Tana Jawa.

Terdapat desas-desus, jika Ki Boncolono menguasai ilmu pancasona atau rawa rontek merupakan sebuah ilmu kuno yang pemiliknya sulit menemui maut. Setiap meninggal dunia akan hidup kembali selama anggota tubuhnya menyentuh tanah.

Follow Berita Okezone di Google News

Diketahui oleh kompeni Belanda, jika tubuh dicincang, pemilik ilmu rawa rontek akan bangkit kembali selama bagian badan yang terpototng bersentuhan satu sama lain. Akhirnya, dia memutuskan menggunakan kekuatan uangnya. Sebuah sayembara digelar kepada siapa saja yang berhasil menangkap Ki Boncolono hidup atau mati, kompeni akan memberi imbalan besar.

Sayembara yang digelar, menarik sebagian besar pendekar pribumi, mereka yang mengetahui kelemahan ilmu Ki Boncolono pun segera bergerak menangkapnya. Dalam waktu singkat, Ki Boncolono berhasil diringkus, lalu kompeni Belanda memotong tubuh Ki Boncolono menjadi dua bagian. kesaktian yang dimiliki beliau tidak akan berfungsi selama tubuh yang terpotong tersebut dipisahkan oleh sungai.

Dari kisah Ki Boncolono, banyak dikenal Maling Gentiri ternyata juga dijuluki Ratu Adil yang dianggap sebagai tokoh yang selalu menuntaskan rakyat dari kemisikanan. Dia pun di akhir masa hidupnya meninggalkan semua perbuatan yang melanggar hukum.

Ilustrasi

Maling Gentiri dimakamkan di Desa Kawengan Kecamatan Jepon +12 km ke arah timur dari kota Blora dan mudah dijangkau dengan kendaraan beroda dua maupun roda rmpat.

Konon penempatan makan Maling Gentiri dimakamkan tanpa kepala.

“Makam Ki Boncolono terbujur dari utara ke selatan, bersebelahan dengan makam Tumenggung Poncolono yang diduga adik Boncolono dan Tumenggung Mojoroto, penghuni awal (cikal bakal) kawasan kediri,” tulis Geoger Quinn.

Pada 2004 makam beliau di Maskumambang sempat dipugar, dilakukan renovasi bangunan diikuti dengan pembetonan sebanyak 555 anak tangga menuju puncak bukit Maskumambang.

Buku Wali Berandal Tanah Jawa, pemugaran dilakukans setelah keturunan keluarga besar Maling Gentiri menyerahkan situs Boncolono kepada Pemkot Kediri dengan prasasti di gapura makam Maling Gentiri yang ditandatangani oleh kepala keluarga besar keturunannya, Japto Soerjosoemarno.

Japto merupakan pimpinan kepala tertinggi ormas Pemuda Pancasila (PP) angakatan ketujuh.

Kemudian, kepala Maling Gentiri konon dikuburkan yang dikenal bernama punden (makam) Rining Sirah merujuk pada pohon beringin tua yang tumbuh di sana, berlokasi di timur Sungai Brantas, tepat di perempatan jalan antara Jl. Hayam Wuruk dan Jl. Joyo Boyo Kota Kediri.

Namun, George Quinn sebagai peneliti asing mendapat asumsi dari sejumlah warga Kediri yang berada di punden Ringin Sirah. Pemisahan tubuh dan kepala Maling Gentiri di sisi Sungai Brantas yang bersebrangan meruakan simbol pemisahan pemimpin dengan rakyatnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini