Share

Mengenal Museum Sumpah Pemuda, Saksi Sejarah yang Dulunya Rumah Kos

Andini Putri Nurazizah, Jurnalis · Kamis 27 Oktober 2022 20:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 27 408 2695908 mengenal-museum-sumpah-pemuda-saksi-sejarah-yang-dulunya-rumah-kos-hHmdWU3Tkb.jpg Museum Sumpah Pemuda di Jakarta Pusat (Okezone.com/Pradita)

MUSEUM Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat merupakan situs sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Dulu, bangunan ini adalah rumah kos.

Pada 28 Oktober 1928, teks sumpah pemuda sebagai ikrar setia berjuangan untuk bangsa dan negara dibacakan di tempat ini. Karena itulah, rumah tersebut kemudian dipugar dan dijadikan museum.

Selama 94 tahun, upacara bendera rutin diadakan tiap tahunnya, untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober.

Dulunya tempat ini digunakan para pemuda di seluruh penjuru Indonesia untuk manampung banyak kegiatan. Mulai dari kegiatan kepanduan, diskusi politik, latihan kesenian Jawa, hingga kongres pemuda yang melahirkan ikrar sumpah pemuda.

Namun dibalik sejarah para pemuda Indonesia membuat tiga butir ikrar disini, ternyata ada sejarah unik lain yang meliputi tempat ini. Menampung dari berbagai sumber, sebelum ditetapkan sebagai cagar budaya, tempat ini sempat beberapa kali beralih fungsi. Bagi Anda yang penasaran, yuk simak penjelasannya!

Rumah Kos

Bangunan ini dulunya merupakan sebuah rumah milik seorang etnis Tionghoa, Sie Kong Liong, sekitar tahun 1908. Rumah ini ia jadikan sebuah indekos bagi pelajar sekolah kedokteran School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (Stovia) dan pelajar sekolah hukum Rechtsschool (RH). Oleh karena itu tempat ini dijuluki sebagai Langen Siswo.

Ilustrasi

Museum Sumpah Pemuda (Okezone.com/Pradita)

Mereka yang tinggal di sana membayar sewa setiap bulannya sekitar 12,5 sampai 20 gulden Hindia Belanda, atau setara dengan 40 liter beras waktu itu. Biaya itu sudah termasuk tiga kali makan dan mencuci pakaian.

Rumah tersebut dulu diurus Bang Salim.

Gedung pertemuan

Rumah tersebut pernah dihuni pemuda dari berbagai daerah di Nusantara, baik dari Jawa, Sumatera, Sulawesi, bahkan Ambon. Rumah tersebut sering digunakan sebagai tempat pertemuan organisasi-organisasi pemuda saat itu, seperti Sekar Roekoen, Pemuda Indonesia, dan Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI).

Beberapa tokoh sejarah Indonesia juga pernah ngekos di rumah ini, seperti Muhammad Yamin, Amir Sjarifoedin, Soerjadi, Soerjadi, Assaat, Abu Hanifah, dan yang lain. Bahkan Bung Karno pun kerap hadir di rumah ini membicarakan pergerakan mahasiswa dan pemuda Indonesia.

Karena banyaknya organisasi yang berkumpul di tempat ini, sekitar tahun 1927 namanya pun berubah dari Langen Siswo menjadi Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw yang artinya gedung pertemuan.

Follow Berita Okezone di Google News

Lokasi Kongres Pemuda Kedua

Karena digunakan sebagai gedung pertemuan, oleh karena itu pada 15 Agustus 1928, tempat ini diputuskan menjadi salah satu tempat penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua, Mencetuskan naskah Sumpah Pemuda, sekaligus pembacaan ikrar Sumpah Pemuda.

Rumah Tinggal

Setelah kongres kedua berakhir, banyak pelajar yang tinggal di sana sudah lulus dari pendidikan mereka, atau melanjutkan pendidikannya di tempat lain. Satu per satu pelajar meninggalkan tempat ini, sampai 1934 rumah ini disewa oleh Pang Tjem dan dijadikan tempat tinggal hingga tahun 1937.

Toko Bunga

Setelah rumah tinggal, ternyata rumah ini juga berevolusi menjadi toko bunga. Seorang etnis Tiongkok lainnya bernama Loh Jing Joe menyewa tempat ini untuk usaha toko bunganya. Ia mulai menyewa pada tahun 1937-1948.

Ilustrasi

Hotel Hersia

Sekitar tahun 1948 gedung itu sudah tidak lagi menjadi toko bunga. Kemudian gedung ini beralih fungsi menjadi sebuah Hotel bernama Hersia. Hotel ini bertahan mulai dari tahun 1948-1951.

Kantor Inspektorat Bea dan Cukai

Selanjutnya gedung ini juga pernah digunakan untuk kepentingan negara, yaitu menjadi kantor inspektorat Bea dan Cukai. Meski begitu, negara juga tetap menyewa tempat ini mulai dari tahun 1951-1970.

Museum dan Cagar Budaya

Akhirnya gedung bersejarah ini resmi menjadi Museum sekitar tahun 1973. Awalnya pada tahun 1968, Sunario mengumpulkan para pelaku sejarah Sumpah Pemuda, dan meminta Gubernur DKI untuk mengesahkan bangunan itu menjadi museuM. Usulan itu disetujui dan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta waku itu, Ali Sadikin, Pada 20 Mei 1973. Pada tahun yang sama, gedung ini juga mengalami pemugaran.

Namun, meski berstatus sebagai Museum, baru pada tahun 2013 statusnya berubah menjadi cagar budaya peringkat nasional melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No 254/M/2013.

Karena sudah berstatus sebagai cagar budaya, gedung ini sempat mengalami revitalisasi pada 23 Oktober 2021. Ada 3 ruangan Museum diubah menjadi lebih rapi dan tertata dengan sentuhan digital modern. Hal ini dilakukan agar tempat itu tetap terawat dan menarik wisatawan untuk berkunjung.

“Kekinian tetapi tetap dengan sejarahnya,” ujar Titik Umi Kurniawati, Kepala Museum Sumpah Pemuda.

Hingga kini Museum Sumpah Pemuda dibuka untuk umum. Jika Anda ingin mengunjunginya, Museum ini buka setiap hari Selasa sampai Minggu, pada pukul 08.00-16.00 WIB. Pastikan untuk tidak berkunjung di hari Senin atau hari besar nasional lainnya, karena Museum ini akan ditutup untuk umum.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini