Share

7 Suku di Indonesia yang Menolak Modernisasi, Setia Menjaga Warisan Leluhur!

Kiki Oktaliani, Jurnalis · Selasa 01 November 2022 19:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 31 406 2697984 7-suku-di-indonesia-yang-menolak-modernisasi-setia-menjaga-warisan-leluhur-6OFPKH8Ra9.jpg Suku Karowai di Papua masih hidup sangat tradisional (Foto: Eric Baccega/NPL/mediadrumworld.com)

ADA 7 suku di Indonesia yang menolak modernisasi. Mereka sangat menjaga tradisi, adat, dan budaya. Saat dunia berkembang makin modern, masyarakat suku-suku tersebut tetap setia hidup dengan nilai-nilai tradisional dan memegang kuat prinsip warisan leluhur.

Dunia dewasa ini telah berkembang menjadi lebih canggih dan modern. Adanya penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi perlahan menggeser perubahan sikap serta mentalitas masyarakat sesuai dengan nilai atau aturan yang berlaku di masa kini.

Dari keadaan masyarakat yang dulunya tradisional, seiring berjalannya waktu berubah karena tuntutan zaman. Salah satunya seperti penggunaan ponsel pintar atau laptop bagi anak-anak usia sekolah yang saat ini kehadirannya sangat menunjang proses belajar para siswa.

 BACA JUGA:Mengenal Tradisi Tato Suku Dayak, Warisan Leluhur Sejak Sebelum Masehi

Namun, hal ini tidak berlaku bagi beberapa suku di Indonesia yang justru mempertahankan nilai-nilai dan kehidupan tradisionalnya dan tak menjalankan gaya hidup modern.

Bahkan mereka rela tak berbaur dengan masyarakat luar dan secara religius bertahan dengan kelompoknya yang juga mengesampingkan kemodernitasan. Apa saja suku-suku di Indonesia yang menolak modernisasi? Berikut daftarnya

1. Suku Rana

Suku Rana merupakan kelompok penduduk asli pulau Buru, Maluku. Sebagian ada yang lahir dari perkawinan penduduk asli dengan pendatang, namun tak sedikit juga yang menetap.

Suku Rana menghuni kawasan di sekitar Danau Rana, yang berada di Pulau Buru, bagian Utara-Barat. Danau Rana adalah danau terbesar yang ada di Maluku dengan ketinggian mencapai 700 mdpl dan dianggap sebagai tempat suci bagi penduduk di pulau Buru. Suku Rana juga meyakini bahwa nenek moyang mereka adalah dewa yang hidup di Tanggal gunung dan danau Rana.

Mata pencaharian utama orang Rana adalah berladang. Cara suku ini bercocok tanam pun masih sangat tradisional, yaitu dengan cara menebang-bakar dan berpindah-pindah. Departemen Sosial memasukkan suku rana ke dalam kategori masyarakat terasing 

2. Suku Baduy

Suku Baduy adalah suku asli Sunda, Banten yang juga masih bertahan dengan cara-cara tradisional dan menolak hidup secara modern baik dalam berpakaian, maupun pola hidupnya.

Perkampungan masyarakat Baduy umumnya terletak di daerah aliran Sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng. Masyarakat suku Baduy hingga kini masih melestarikan berbagai kebudayaannya seperti pencak silat, debus, tari topeng, menenun, hingga menggunakan pakaian khusus masyarakat Baduy yang berbeda antara laki-laki dan perempuannya.

 Ilustrasi

Warga Baduy

3. Suku Kajang

Suku ketiga yang juga menolak modernisasi adalah suku Kajang, yang hidup di pedalaman Bulukumba, Sulawesi Selatan. Mereka memilih mempertahankan tradisi dan kearifan lokal yang dikenal sebagai pasang ri kajang.

Pasang ri kajang adalah sebuah produk kearifan lokal yang dihasilkan oleh masyarakat tradisional Kajang Berupa hukum adat, yang bersumber pada keyakinan, telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Ilustrasi

Warga Kajang (Instagram @asrullah.ai)

Kearifan lokal ini diyakini dapat menciptakan keselarasan, keserasian, keseimbangan dan kelestarian antara manusia, lingkungan permukiman, lingkungan alam, dan Sang pencipta yang mereka sebut Turie‟ A‟ra‟na.

Jika tradisi dan hukum adat ini dilanggar, maka akan merusak keseimbangan sistem kehidupan di lingkungan Kawasan Adat, sehingga Amma-Toa sebagai ketua adat akan memberikan sanksi kepada setiap orang yang melakukan pelanggaran tersebut.

Follow Berita Okezone di Google News

4. Suku Samin

Suku samin juga biasa disebut Wong Rikep yang bermukim di Blora, Pati, dan Bojonegoro. Suku Samin memiliki sebuah ajaran bernama Samin Surosentiko yang muncul pada masa kolonial Belanda. Masyarakat samin sebagai salah satu kelompok etnik yang ada di Indonesia tentu memiliki nilai- nilai budaya yang berbeda dengan masyarakat lainnya.

5. Suku Polahi

Polahi adalah para pencari rotan dan damar pada masa kolonialisme yang kemudian memilih dan menetap di hutan dan kemudian tidak lagi kembali ke kampung halaman mereka sampai setelah Gorontalo merdeka pada tahun 1942. Polahi dalam bahasa Gorontalo sendiri berarti pelarian. Masa itu orang-orang Polahi melarikan diri untuk menghindari kerja paksa.

 Ilustrasi

Komunitas Polahi tidak terjadi interaksi antar kelompok melainkan hanya antar anggota keluarga dalam satu keturunan atau kelompok.Kelompok-kelompok ini bila sering bertemu, timbul perkelahian. Cara bertahan hidup suku ini adalah dengan berburu dan hidup secara transisi atau nomaden.

6. Suku Anak Dalam

Suku Anak Dalam dikenal juga dengan nama Suku Kubu, yang tinggal di kawasan hutan dataran rendah di Sumatera Tengah, khususnya Jambi. Namun dari suku ini sendiri, tak pernah ada yang menyebut dirinya berasal dari suku Kubu, karena penamaan tersebut dianggap menghina.

Suku Anak Dalam ini merupakan penamaan yang menggeneralisasi dua kelompok yang tinggal di wilayah tersebut, yaitu Orang Rimba dan Suku Batin. Suku Anak Dalam sangat menggantungkan hidupnya terhadap sumber daya alam yang ada di hutan. Mata pencaharian dari suku ini adalah meramu hasil hutan dan berburu.

7. Suku Korowai

Suku Korowai adalah kelompok sosial yang merupakan penduduk asli dalam wilayah Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Korowai memiliki bahasa yang termasuk dalam satu keluarga Awyu- Dumut yang mencangkup satu wilayah luas antara Sungai Eilanden dan Digul.

Keistimewaan dari suku Korowai adalah memiliki rumah-rumah pohon yang menakjubkan yang tingginya jelas tidak normal. Korowai merupakan salah satu suku di Papua yang tidak memakai koteka. Kaum lelaki memakai kantong jakar dan sejenis dedaunan sebagai celana, sedangkan kaum perempuan memakai rok pendek yang terbuat dari daun sagu.

Suku Korowai hingga kini juga masih mempertahankan nilai tradisionalnya, dan menolak untuk beradaptasi dengan dunia modern.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini