Share

7 Fakta Menarik Air Force One, Pesawat yang Angkut Joe Biden ke Bali

Andini Putri Nurazizah, Jurnalis · Senin 14 November 2022 18:16 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 14 406 2707364 7-fakta-menarik-air-force-one-pesawat-yang-angkut-joe-biden-ke-bali-Kq5Q8UKFhu.jpg Presiden AS Joe Biden tiba di Bali dengan Pesawat Air Force One (Foto: Kemenparekraf)

PRESIDEN Amerika Serikat Joe Biden tiba di Bali dengan Pesawat Kepresidenan AS Air Force One, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, pada 15-16 November 2022.

Pesawat Air Force One mendarat mulus di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, pada Minggu 13 November 2022 sekira pukul 21.46 Wita. Joe Biden langsung disambut dengan suguhan tarian Pandet khas Bali.

Air Force Once yang membawa Biden merupakan salah satu Pesawat Kepresidenan paling terkenal di dunia.

Melansir dari laman Mental Floss, berikut adalah fakta menarik yang mungkin tidak Anda ketahui tentang Air Force One.

Air Force One Bukan Nama Pesawat

Fakta yang satu ini, memang sedikit membingungkan. Pasalnya sebagian orang akan menggambarkan hal yang berbeda, jika mengatakan “Air Force One”. Diketahui istilah ini merupakan panggilan umum untuk setiap pesawat Angkatan Udara yang digunakan Presiden Amerika Serikat saat ini.

Umumnya panggilan ini juga berlaku, jika presiden menaiki pesawat sipil (seperti pesawat pribadi), tapi tak jarang sebagian orang lainnya menyebutnya sebagai “Executive One". Namun untuk sekarang panggilan “Air Force One” cukup diterima, sebagai nama dari dua Boeing 747-200B yang sering ditumpangi presiden, bahkan ketika mereka tidak ada di dalamnya.

Ilustrasi

Ada Pula "Air Force Two" adalah tanda panggilan untuk setiap pesawat Angkatan Udara yang membawa wakil presiden, biasanya ditemukan pada Boeing C-32 . Hal ini sengaja dilakukan untuk alasan keamanan, karenanya presiden dan wakil presiden tidak pernah terbang bersama di pesawat yang sama.

Presiden Dwight D. Eisenhower Menjadi Orang Pertama yang Menggunakan Istilah Air Force One

Sebagai pengingat istilah Air Force One sendiri muncul ketika Dwight D. Eisenhower menjabat sebagai presiden Amerika Serikat pada tahun 1953. Padahal menurut sejarah gelar “first flying president” dipegang oleh Theodore Roosevelt, serta sepupunya Franklin Delano Roosevelt yang kemudian menjadi presiden pertama yang naik pesawat saat bepergian ke luar negeri untuk menghadiri konferensi Perang Dunia II.

Menurut sebuah cerita dalam Popular Mechanics, di tahun 1953 awalnya terdapat sebuah pesawat komersial terdekat menggunakan tanda "8610" yang sama dengan pesawat presiden, hal tersebut bisa saja dapat menyebabkan kecelakaan dan berpotensi berbahaya. Pada pertimbangan lainnya, sebagai Panglima militer sangat penting untuk tidak hanya mengetahui di mana pesawat kepresidenan berada, tetapi juga mengetahui apakah presiden berada di dalamnya.

Untuk itu pada masanya, Eisenhower tidak menikmati kemewahan yang sama dari “Air Force One” saat ini. Sementara pesawat yang digunakan pada saat itu memiliki ruang kantor dan pusat komunikasi kecil, itu hanya menampung sekitar 16 orang dan tidak memiliki fasilitas sebanyak pesawat saat ini.

Follow Berita Okezone di Google News

Air Force One Memiliki Kantor, Kamar Tidur, dan Pusat Kesehatan

Untuk menunjang kinerja presiden selama berada di dalam pesawat, Air Forced One menyediakan berbagai fasilitas modern di dalamnya. Dengan luas pesawat mencapai lebih dari 371 meter persegi, dapat mendistribusikan tiga tingkat bagian pada pesawat.

Untuk itu pesawat ini memiliki kantor besar, kamar tidur, kamar mandi, dan ruang konferensi yang berfungsi sebagai Kantor Oval udara. Ada juga pusat kesehatan atau ruang operasi di dalam pesawat untuk keadaan darurat, dengan kehadiran dokter di setiap penerbangan. Serta dapur untuk menyiapkan hingga 2000 makanan dalam satu penerbangan dan dapat memberi makan hingga 100 orang sekaligus.

Air Force One Dapat Mengisi Bahan Bakar di Udara

Berbeda dengan pesawat lain yang harus mendarat untuk mengisi bahan bakar, maka berbanding terbalik dengan Air Force One yang dapat mengisi tangkinya di tengah penerbangan tanpa harus mendarat.

Ilustrasi

Kelebihan tersebut dimungkinkan dengan bantuan mengisi ulang Air Force One melalui hidung pesawat. Meskipun berguna, pesawat tersebut tampaknya tidak pernah menggunakan kelebihan tersebut saat seorang presiden berada di dalamnya. Hal tersebut dimaksudkan agar perjalanan presiden aman dan lancar tanpa hambatan.

Pesawat Kepresidenan Lainnya Bernama “Flying Pentagon”

Selain pesawat Air Force One yang memiliki beberapa fitur keamanan canggih, ternyata ada pesawat lainnya milik pemerintah AS yang dipersiapkan jika Perang Dingin melanda. Hal ini sudah direncanakan militer AS pada tahun 1970-an, dengan membuat 4 boeing E-4 untuk melindungi presiden dan pejabat penting pemerintah jika terjadi serangan nuklir.

Untuk itulah pesawat tersebut dijuluki “Flying Pentagon” karena seperti tameng terbang. Detail pasti dari pertahanannya sangat rahasia untuk umum, tetapi dikatakan bahwa pesawat ini dilengkapi dengan jendela anti radiasi, pelindung termal dan nuklir, dan penanggulangan terhadap tembakan langsung. Diperkirakan memiliki 67 piringan satelit untuk berkomunikasi dengan pasukan di seluruh dunia jika hal terburuk terjadi.

Air Force One Tidak Pernah Parkir di Terminal Bandara

Demi faktor keamanan dan merupakan simbol dari kepresidenan , pesawat ini tidak pernah terparkir di area terminal bandara. Untuk itu, butuh waktu lama untuk masuk dan keluar dari hub bandara dan bisa saja menunda presiden ketika dalam keadaan darurat.

Tidak jarang Anda akan melihat pemandangan presiden AS yang berjalan menuruni tangga meski belum turun secara sepenuhnya di tanah. Ketika sebuah pesawat tidak digunakan, pesawat itu diparkir di Pangkalan Gabungan Andrews , sebuah fasilitas militer di luar Washington, DC.

Pesawat Air Force One saat ini akan segera diganti

Dalam beberapa tahun kedepan, dua pesawat yang dikenal sebagai Air Force One saat kali pertama digunakan oleh George HW Bush (1990), akan segera tergantikan. Seluruh proyek diperkirakan akan menelan biaya lebih dari Rp77.655 miliar dan akan mencakup dua pesawat Boeing 747-8 baru yang akan menjadi VC-25B (sebutan militer) setelah mendapatkan modifikasi ekstensif .

Sebagian besar detailnya masih dirahasiakan dan pesawat ini nantinya tidak dijadwalkan untuk digunakan sampai tahun 2024 mendatang. Bahkan dengan label harga termahal, pesawat baru tidak memiliki beberapa fitur utama dari pesawat saat ini, termasuk kemampuan untuk mengisi bahan bakar di udara. Namun, mereka akan dapat melakukan perjalanan lebih jauh dalam satu penerbangan daripada pendahulunya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini