Share

Terungkap! Ini Alasan Orang Jepang Makan Mi Harus Bersuara 'Slurp'

Dita Mawanda, Jurnalis · Jum'at 25 November 2022 21:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 24 301 2714116 terungkap-ini-alasan-orang-jepang-makan-mi-harus-bersuara-slurp-qhy5NQtqZb.JPG Ilustrasi makan mi (Foto: myojousa.com)

MENGULAS alasan orang Jepang makan mi harus bersuara 'slurp'. Makanan sejenis mi sangat populer di Jepang, seperti ramen, soba, udon. Uniknya kalau makan mi, orang Jepang harus bersuara.

Ini agak terbalik dengan budaya umum di Indonesia yang dianggap kurang sopan kalau makan dengan bersuara.

Melansir dari Nippon, tahun lalu, mi sempat muncul dan menjadi perdebatan sengit akibat sebuah komentar anonim Jepang di Twitter terkait "pelecehan mi", memiliki arti kebiasaan orang-orang Jepang menyeruput mi tidak hanya menyinggung orang asing tetapi juga sebagai bentuk pelecehan.

Komentar itu di-retweet secara luas, bahkan topiknya menyebar ke media arus utama yang menimbulkan banyak tanggapan pro dan kontra. Dengan cepat diusut, kepala pendingin menang karena menjadi jelas jika komentar itu telah mengarang kontroversi.

 BACA JUGA:8 Kuliner Khas Myanmar yang Lezat, Bikin Ketagihan

Namun, menyeruput mi merupakan kebiasaan khas Jepang yang cenderung memancing reaksi mulai dari rasa geli hingga jijik, di antara orang aisng yang baru pertama kali melihatnya.

Pertanyaan tentang penciuman?

Di Jepang, berbagai tempat makan tidak menyukai makan berisik terutama dalam situasi sosial formal.

Namun, salah satu ahli mi terkemuka di Jepang, Horii di distrik Azabu Juban Tokyo, toko soba berusia 220 tahun begitu populer di kalangan penduduk lokal dan turis memberikan penjelasan ilmiah.

 

"Menurut saya, menyeruput dikembangkan sebagai cara untuk menikmati aroma soba dengan lebih baik," komentarnya.

 BACA JUGA:7 Kuliner Enak Khas Filipina, Ada yang Mirip Makanan Indonesia Lho!

Lanjut Horii, bau soba paling baik dinikmati melalui mulut bukan hidung. Soba sulit untuk dicium, sehingga mulut dimanfaatkan untuk merasakannya. Aroma khas soba tercium jelas saat proses pemasakan, terutama saat soba dikukus dalam steamer bambu, seperti zaman dahulu. .

"Orang akan mencium aroma dari uap yang keluar. Tapi, aroma soba yang dimasak jauh lebih halus terutama berlaku untuk mori soba dingin," jelas Horii, ditambahkan oleh dia, jika tidak ada uap aromatik yang keluar dari mi dingin, jadi meskipun berusaha mengendus, tidak banyak tercium.

"Tapi saat Anda menyeruputnya dengan kuat, Anda bisa merasakan aromanya meledak di mulut Anda sepenuhnya. Itulah cara makan soba yang benar."

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Nutrisi nyaman untuk massa

Soba memiliki nilai gizi tinggi dan matang dengan cepat. Nilai gizi soba tidak diragukan lagi, soba tinggi protein dan vitamin B penting.

"Edo adalah kota berpenduduk satu juta orang saat itu, juga salah satu pusat kota terbesar di dunia. Untuk bertahan hidup di lingkungan yang ramai dan kompetitif, orang membutuhkan akes mudah ke makanan yang cepat dan bergizi," tutur Horii.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan soba mengakar di Edo, sementara udon terus berkuasa di wilayah Kansai (Kyoto Osaka).

Soba sebagai makanan jalanan

Sebagian besar orang Edo membeli dan mengkonsumsi soba di kios makanan, atau dari dagangan pinggir jalan malam hari yang berkeliling membawa barang dagangan mereka di bahu. Walaupun, ada pula toko soba kelas atas di sana.

Diketahui, soba adalah makanan jalanan untuk rakyat jelata. Pada zaman Edo pun, orang Jepang sudah memiliki etiket meja yang berkembang dengan baik, makan dengan berisik, tapi seperti yang ditunjukkan Horii, "Ini adalah makanan rakyat biasa, jaid mereka tidak terlalu khawatir tentang tata krama meja formal."

 Ilustrasi

Secara keseluruhan, kebiasaan menyeruput mi berasal dari kios soba, lalu menyebar, dan berlaku hingga zaman modern, memengaruhi cara orang Jepang makan ramen dan mi lainnya.

Mengajari dunia untuk menyeruput

 

Menyeruput adalah cara terbaik untuk makan mi soba. "Saya tidak memberi tahu siapa pun cara makan mereka yang tidak bisa menyeruput dan mengunyah," kata Horii.

Horii juga bersikeras, jika setiap orang tidak bisa memaksakan sesuatu cara bagaimana orang menikmati mi. Menyeruput mie adalah kebiasaan sejak zaman Edo dan menjadi bagian integral dari budaya makanan Jepang.

"Kita tidak perlu meninggalkan kebiasaan seperti itu karena takut melakukan 'pelecehan mi', tetapi kita juga tidak boleh memaksakannya kepada orang lain."

Horii hanya berharap orang asing menikmati mi buatan mereka, menikmati waktu makan lebih penting daripada mengikuti berbagai buku etiket.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini