Share

Melihat Geliat Wisata di Kaki Gunung Salak, Membangun Ekonomi Memajukan Desa

Andini Putri Nurazizah, Jurnalis · Sabtu 03 Desember 2022 19:20 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 03 406 2719822 melihat-geliat-wisata-di-kaki-gunung-salak-membangun-ekonomi-memajukan-desa-N2GXyttRjc.jpg Jambore wisata desa di kaki Gunung Salak, Desa Purwabakti, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Foto: ANTARA)

LANTUNAN merdu suara celempung dan angklung mengalun di antara tumbuhan padi persawahan di kaki Gunung Salak, Desa Purwabakti, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Suara itu berasal dari tabuhan dan getaran tangan belasan mojang-jajaka berpakaian adat Sunda. Mereka sambil melenggak-lenggok mengikuti irama tepat di depan saung tempat masyarakat merayakan "seren taun".

Gelaran seren taun di Desa Purwabakti kali ini memang jauh lebih meriah dari sebelumnya. Upacara adat panen padi tahun ini dikemas dalam rangkaian kegiatan Jambore Wisata Desa yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor.

 BACA JUGA:Survei: Ini 5 Destinasi Wisata Favorit Pelancong di Sumatera Barat

Desa berjarak 20 kilometer dari Jalan Raya Leuwiliang-Bogor itu menjadi tuan rumah Jambore Wisata Desa berkat didirikannya objek wisata Terasering Cisalada oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Bhakti Kencana.

Padahal, objek wisata tematik berbasis budaya itu baru dibangun enam bulan lalu, dari hasil keuntungan Bumdes Bhakti Kencana setelah menjalankan beberapa unit bisnis lainnya sejak 2018.

 Ilustrasi

Gunung Salak

Terasering Cisalada menjadi motor baru penghasil keuntungan di sektor pariwisata bagi Bumdes yang dipimpin oleh Herdiansyah alias Ayong. Hingga kini, Bumdes itu tercatat memiliki 16 objek wisata yang pengelolaannya melibatkan masyarakat desa.

Melansir dari ANTARA, Sabtu (3/12/2022), deretan objek wisata tersebut, yakni Curug Cikanirin, Kuta Cisakti, Curug Cibeungang, Curug Cigagak, Kebun Teh Cigarehong dan Panorama Pasir Limus.

Kemudian, Curug Geleweran, Riung Kawung, Mina Padi, Cipanas Kahuripan, Camping Ground Pasker, Curug Cikawah, Saung Kampung Budaya Cisalada, Datar Lega, serta Bukit Panorama Purbaya.

Gali potensi

Perjuangan susah payah dilalui Bumdes tersebut dalam menggali potensi ekonomi desa. Awal berdiri Bumdes ini hanya menjalankan bisnis pertanian serta perdagangan dan jasa. Tapi, kini tercatat memiliki delapan unit bisnis.

 BACA JUGA:Dispar dan Peneliti Rancang Pola Perjalanan Geowisata di Gorontalo, Seperti Apa?

Delapan unit bisnis itu, yakni perdagangan dan jasa, pariwisata, pertanian, peternakan, kerajinan tangan ekonomi kreatif, multimedia, serta usaha mikro kecil menengah (UMKM).

 

Bumdes ini satu dari enam Bumdes yang perkembangannya melesat cepat di Jawa Barat. Enam Bumdes itu berlokasi di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, serta Kecamatan Kabandungan dan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi.

Keenam Bumdes ini awalnya mendapatkan dukungan berupa pendampingan dan studi banding dari sebuah lembaga ke Bumdes percontohan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Berkat kegigihan pengurus yang saat itu hanya berjumlah lima orang, sebuah perusahaan pembangkit listrik di Gunung Salak tersebut kembali memberikan bantuan berupa mesin pendingin biji kopi dan mesin pengupas kopi basah di tahun 2021.

Peluang bisnis yang pertama kali dijalankan yaitu produksi beras dengan melibatkan petani-petani di Desa Purwabakti sejak awal tahun 2019. Meski belum begitu memberikan keuntungan yang signifikan, tapi Bumdes itu kini mampu menggairahkan perekonomian masyarakat desa dengan pelibatan 100 petani padi.

Follow Berita Okezone di Google News

Kemudian, pada tahun 2020, bisnisnya merambah pada produksi kopi robusta bekerja sama dengan 156 petani, dan mampu menghasilkan sekitar 20-25 ton per musim setiap tahunnya.

Pada tahun yang sama, Bumdes itu juga mendirikan unit pariwisata. Destinasi wisata yang pertama didirikan adalah wisata air Curug Geleweran, dan wisata kemah Pasir Kerud. Objek terbaru didirikan pertengahan 2022, yaitu wisata Terasering Cisalada.

Berbagai perjuangan yang dilakukan pun mendulang hasil signifikan. Dalam setahun, Bumdes yang kini memiliki formasi 11 pengurus itu mampu meraup pendapatan hingga Rp300 juta di luar keuntungan mitra kerjanya, seperti petani dan pengelola wisata.

Tak hanya itu, Ayong dan kawan-kawan juga beberapa kali menerima penghargaan atas berbagai prestasi yang dicapai. Seperti pada tahun 2020, lolos menjadi 50 Bumbes terbaik di Jawa Barat, program Bumdes Jabar Juara dari Gubernur Ridwan Kamil.

 Ilustrasi

Penghargaan berbuah bantuan satu unit mesin roasting kopi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Saat itu Bumdes tersebut masuk kriteria juara karena dinilai melibatkan masyarakat luas dalam menjalankan bisnisnya, serta dianggap kompeten dalam mengatur manajemen dan adminsitrasi.

Kemudian, memenangkan penghargaan Sejahtera Astra (DSA) Innovation dua tahun berturut-turut mewakili Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 2020 juara satu tingkat nasional atas produk beras unggulan terbaik, dan tahun 2021 juara dua tingkat nasional atas inovasi produksi beras glikemik untuk penderita diiabetes.

Lalu, penghargaan dari Kementerian Pariwisata tahun 2021 karena bhumdes itu masuk 300 Bumdes kategori rintisan se-Indonesia.

Teranyar, yaitu penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Bogor berupa uang tunai Rp50 juta karena menjadi pemenang Anugerah Wisata Desa 2022. Wisata Terasering Cisalada yang baru enam bulan silam berdiri, meraih juara harapan kategori maju atas.

Wisata menjanjikan

 

Setelah melakoni berbagai bidang bisnis di Desa Purwabakti, Ayong dan kawan-kawan menyadari pendapatan Bumdes itu didominasi dari sektor pariwisata, dengan perkiraan 50 persen dari total keseluruhan pendapatan.

Maka, mulai tahun ini bumdes itu membuat perjanjian kerja sama dengan sebuah pembangkit listrik untuk membentuk unit bisnis agrowisata, seperti atraksi wisata dalam lima tahun ke depan.

Tak hanya itu, para pengurus Bumdes juga sepakat untuk mengalokasikan sebagian besar keuntungan, sebesar 30 persen untuk pengembangan sektor wisata.

 Ilustrasi

Meski perputaran uang tertinggi ada pada sektor wisata, rupanya hasil penjualan tiket bukan merupakan penyumbang pendapatan terbesar, melainkan didominasi dari penjualan makanan, minuman, dan produk-produk UMKM di lokasi wisata.

Dari setiap Rp10 ribu hasil penjualan tiket masuk wisata, Bumdes hanya mendapatkan keuntungan Rp2.500. Sisanya, Rp2.500 untuk pengelola, Rp2.500 untuk pemilik lahan, dan Rp2.500 untuk pengembangan wisata.

Bumdes Bhakti Kencana pun sudah memiliki rencana matang untuk mengembangkan wisata di Desa Purwabakti, seperti penyiapan objek khusus terintegrasi untuk wisata berbagai usia.

Kemudian wisata berbasis konservasi juga menjadi target para pengurus Bumdes untuk bisa direalisasikan paling lambat tahun 2024. Wisata ini nantinya dikerjasamakan dengan Balai Taman Nasional untuk menggaet pengunjung yang ingin melakukan penelitian.

Dengan demikian, Ayong dan kawan-kawan meyakini Desa Purwabakti tak hanya akan dikenal oleh masyarakat Indonesia, melainkan mancanegara. Negara bidikan utamanya adalah Jepang dan Korea Selatan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini