Share

Mengulik Sejarah Hotel Royal Ambarrukmo, Tempat Pernikahan Kaesang-Erina Gudono

Wiwie Heriyani, Jurnalis · Kamis 08 Desember 2022 15:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 07 406 2722388 mengulik-sejarah-hotel-royal-ambarrukmo-tempat-pernikahan-kaesang-erina-gudono-VIDS1Te8Wg.jpg Royal Ambarrukmo di Sleman, DIY (Foto: Royal Ambarrukmo)

PERNIKAHAN anak bungsu Presiden Jokowi, Kaesang Pengarep dengan Erina Gudono digelar pada Sabtu, 10 Desember 2022, di Pendopo Agung Royal Ambarrukmo yang terletak di Hotel Royal Ambarrukmo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Royal Ambarrukmo yang pernah jadi istana kerajaan merupakan hotel heritage yang jadi saksi sejarah kemerdekaan Indonesia. Menampilkan koleksi luar biasa karya arsitektur Jawa otentik dari abad ke-18 dan karya seni dari tahun 1964; semuanya terpelihara dengan baik di kompleks hotel hingga saat ini.

Menurut Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta, kompleks Kedhaton Ambarrukmo terdiri dari tujuh kawasan, yaitu Pendopo Agung, Ndalem Ageng, Bale Kambang, Gandhok, Pacaosan dan Alun-Alun.Kedhaton Ambarrukmo dibangun berdasarkan tradisi Jawa yang kuat.

 BACA JUGA:25 Tempat Wisata di Solo Keren dan Seru, Bikin Liburan Makin Berkesan

Setiap bagian dari keseluruhan kompleks memiliki fungsi yang berbeda dan menyampaikan makna filosofis tertentu dan juga doa-doa yang mewakili nilai-nilai agama, kepercayaan dan norma budaya Jawa.

Pendopo Agung Royal Ambarrukmo merupakan bangunan semi outdoor tanpa dinding yang melambangkan keterbukaan Raja kepada seluruh rakyatnya. Lantai yang dibuat lebih tinggi dari halaman di pendopo tersebut dirancang untuk mencerminkan penghargaan kepada semua tamu dan keakraban dengan harmoni.

 Ilustrasi

Kaesang Pangaerp-Erina Gudono

Sejak dibangun tahun 1857 oleh Sultan Hamengku Buwono VI, Pendopo Agung tidak mengalami perubahan bentuk melainkan lebarnya. Bentuk dasarnya adalah 'Joglo Sinom' dengan ukuran 32 x 32,4 meter, dan mengarah ke selatan.

Atapnya ditopang oleh total 36 pilar dari tiga jenis, yakni 4 Saka Guru (pilar utama), 12 Saka Penanggap (pilar sub utama) dan 20 Saka Penitih (pilar luar dan pendukung). Semua pilar dihiasi dengan ukiran seperti 'Wajikan', 'Saton', 'Tlacapan', 'Mirong' dan 'Praba', yang masing-masing diletakkan di atas 'umpak' (dasar batu) yang diukir dengan kaligrafi Arab.

General Manager Hotel Royal Ambarrukmo, Herman Curbois mengatakan Pendopo Agung Royal Ambarrukmo sebenarnya adalah heritage karena merupakan salah satu bangunan tempat peristirahatan Raja Ngayogyakarto Hadiningrat.

 BACA JUGA:25 Oleh-Oleh Khas Solo, Kota Tempat Resepsi Pernikahan Kaesang-Erina

"Bangunan di sini memang mirip dengan susunan di Keraton Yogyakarta," ujar dia.

 

Herman menuturkan kompleks pendopo Agung Royal Ambarrukmo dulu menjadi tempatnya peristirahatan raja-raja Yogyakarta. Dulunya jika raja Yogyakarta ingin beristirahat keluar dari keraton biasanya datang ke peristirahatan di kedhaton Ambarrukmo ini yang dulunya memang masih hutan.

Termasuk ketika ada tamu dari luar daerah yang hendak bertemu dengan raja, maka biasanya diminta untuk beristirahat dulu di peristirahatan tersebut.

Pemberian nama sendiri juga berdasarkan keputusan Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang memilih untuk menempati tempat ini. Di mana saat itu, pada 27 Oktober 1920, Sri Sultan Hamengku Buwono VII mengajukan mundur atau berhenti menjabat sebagai Sri Sultan melalui surat pengunduran diri.

"Setelah resmi turun tahta, beliau kemudian memutuskan untuk tinggal di Pesanggrahan Ambarrukmo,” tutur Herman.

Follow Berita Okezone di Google News

Tetapi sebelum ini, sebenarnya juga ada alun-alun, pendopo dan juga balai Kambang. Kendati sudah mencapai umur ratusan tahun, keaslian arsitektur bangunan masih tampak terjaga dengan baik. Mulai dari pendopo, Ndalem Ageng hingga Bale Kambang.

"Fungsinya ini dulu alun-alun untuk masyarakat umum, pendopo untuk resepsi, lalu pringgitan dan ageng dalem untuk VIP atau keluarga, lalu Gadri untuk keluarga dari raja," ujarnya.

Saat ini, bangunan utama digunakan sebagai Museum Ambarrukmo dengan diisi oleh berbagai peninggalan raja-raja Keraton Yogyakarta. Dimulai dari Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga Sri Sultan Hamengku Buwono X.

"Sekarang jadi museum yang menyajikan beragam foto-foto sejarah. Selain itu juga untuk menyimpan gamelan dan koleksi wayang kulit,” tuturnya.

 Ilustrasi

Di dalam Dalem Ageng ada beberapa ruangan yang difungsikan untuk tempat beberapa barang. Di antaranya ruangan pertama untuk Gamelan, ruangan kedua untuk wayang dan kemudian juga keris. Ada satu ruangan yang tidak boleh digunakan yaitu ruangan yang dulunya merupakan tempat peristirahatan (kamar) Sri Sultan HB VII.

Saat ini, bangunan pendopo boleh dikomersialkan namun untuk kegiatan yang masih ada kaitannya dengan budaya. Biasanya dimanfaatkan untuk lokasi pernikahan. Tidak hanya berupa tulisan saja, melainkan juga tarian, sastra, gamelan hingga pewayangan gaya Yogyakarta.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini