Share

Carok, Duel Maut dari Madura untuk Mempertahankan Kehormatan Diri

Dennira Prifta Binantari, Jurnalis · Jum'at 30 Desember 2022 16:47 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 30 406 2737358 carok-duel-maut-dari-madura-untuk-mempertahankan-kehormatan-diri-SHvWnFdmlm.jpg Tradisi Carok dari Madura. (Ilustrasi foto diambil dari Film Carok karya Institut Kesenian Jakarta)

JAKARTA - Ahli Kriminologi Muhammad Mustofa sempat menyinggung soal Carok dalam persidangan kasus pembunuhan Brigadir J yang menjadikan Ferdy Sambo sebagai terdakwa, pada 19 Desember 2022. 

Dia menilai, jika memang Sambo memerintahkan Bragada E membunuh Brigadir J karena harga diri, maka dia seharusnya menyerahkan diri. Hal ini sesuai dengan tradisi Carok yang mengakar di masyarakat Madura. 

Tradisi Carok dari Madura. (Ilustrasi: Film pendek Carok karya Insititut Kesenian Jakarta)

Tradisi Carok dari Madura. (Ilustrasi: Film pendek Carok karya Insititut Kesenian Jakarta)

Apa itu Carok? Dan bagaimana tradisi ini berkembang di Madura? Carok merupakan salah satu tradisi unik asal Madura yang begitu lekat dengan kekerasan. Pasalnya, tradisi ini ditandai dengan pertarungan berdarah menggunakan senjata tajam seperti celurit. 

Keberadaan tradisi ini membuat masyarakat Madura lekat dengan imej keras dan temperamental. Tradisi ini, sebenarnya upaya orang Madura memulihkan kehormatan dan harga dirinya yang telah dicoreng pihak lain.

Bahkan Mien Ahmad Rifai dalam bukunya Manusia Madura pada 2007 mengatakan, masyarakat setempat memegang prinsip: etambang pote mata lebih bagus pote tolang. Artinya, daripada hidup menanggung malu, lebih baik mati berkalang tanah. 

Tradisi Carok dari Madura. (Ilustrasi: Film pendek Carok karya Insititut Kesenian Jakarta)

Tradisi Carok dari Madura. (Ilustrasi: Film pendek Carok karya Insititut Kesenian Jakarta)

Pemicu terjadinya Carok bisa banyak hal, dari perebutan kekuasaan, warisan, hingga perselingkuhan. Tradisi ini pertama kali berkembang di Madura pada zaman pendudukan Belanda, sekitar abad 18. 

Kala itu, Belanda menghasut warga untuk melakukan perlawanan terhadap keluarga Blater, jagoan asal Madura, yang disebut-sebut sebagai kaki tangan penjajah. Hingga akhirnya terjadi Carok antara warga lokal dengan ‘saudara’ sendiri dari kaum Blater. 

Berawal dari sinilah, masyarakat setempat terbiasa menyelesaikan masalah mereka dengan bertarung menggunakan celurit. Bahkan ketika Indonesia merdeka, tradisi Carok ini masih terus terpelihara di Bangkalan, Sampang, hingga Pamekasan.

BACA JUGA: Nasi Kobel, Makanan Nelayan Khas Sampang Madura yang Melegenda

BACA JUGA: Menikmati Pentol Bakar Khas Madura, Gurihnya Bikin Nagih

 

Follow Berita Okezone di Google News

Pertarungan Maut

Sebelum melakukan Carok, para peserta biasanya akan sepakat tentang hari pertarungan terlebih dahulu. Setelahnya mereka akan membuat arena yang bisa disaksikan oleh siapa saja.

Tradisi Carok dari Madura. (Ilustrasi: Film pendek Carok karya Insititut Kesenian Jakarta)

Tradisi Carok dari Madura. (Ilustrasi: Film pendek Carok karya Insititut Kesenian Jakarta)

Jika ada yang terbunuh dalam pertarungan itu, si pemenang biasanya akan menyerahkan diri kepada aparat. Namun dalam perkembangannya, tradisi ini mulai ditinggalkan karena menyalahi aturan hukum dan agama.

“Jadi, masyarakat setempat menyadari bahwa Carok adalah dosa besar karena melanggar perintah agama dan melawan hukum. Sehingga, masyarakat merasa tradisi ini tak lagi tepat untuk dilakukan,” ujar Farid Pribadi, Sosiolog Universitas Negeri Surabaya.*

1
2
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini