Share

Kopernya Ditemukan, Wanita Ini Justru Dapatkan Masalah Baru, Kenapa?

Sri Latifah Nasution, Jurnalis · Selasa 24 Januari 2023 20:00 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 23 406 2751551 kopernya-ditemukan-wanita-ini-justru-dapatkan-masalah-baru-kenapa-InRQfkTo4M.jpg Koper penumpang pesawat (Foto: Stuff)

MENDAPATKAN kembali koper yang hilang saat penerbangan pasti sangat menyenangkan. Namun, lain halnya dengan wanita asal Auckland, Selandia Baru ini. Ditemukannya koper tersebut malah menimbulkan masalah baru baginya.

Dilansir dari news.com.au, Megan Stephens (32) mendapatkan informasi tentang kopernya, ketika dia sedang dalam perjalanan ke luar negeri.

Ketika kembali ke rumah, bersama pasangannya akhir pekan lalu, mereka menemukan koper tersebut telah digeledah dan kendaraan mereka dirusak.

Stephens menegaskan kalau dia tidak pernah meminta koper tersebut untuk diantarkan.

“Di dunia mana Anda akan mengirimkan koper yang penuh dengan barang ke rumah di mana mungkin tidak ada orang di rumah itu?”

Pasangan tersebut sedang bepergian ke Eropa ketika dua koper mereka hilang. Hal yang paling mengejutkan adalah kedua koper tersebut dikirim ke belahan dunia yang berlawanan. Salah satunya dikirim ke New Zealand, sementara yang lainnya ke tempat yang bahkan tidak pernah dikunjungi oleh pasangan tersebut.

“Ceritanya panjang sekali,” katanya.

Ilustrasi

Ilustrasi koper (Freepik)

Mereka berangkat dari Auckland menuju Paris Charles de Gaulle dengan United Airlines pada 16 Desember lalu. Singgah di Sydney, mereka kemudian berganti pesawat menjadi Air New Zealand.

Perjalan mereka tidak berjalan mulus. Ada beberapa koneksi yang terlewat, juga pengalihan medis selama lima jam ke Bandara Lincoln Nebraska untuk salah seorang penumpang di pesawat mereka.

Keduanya baru tiba di Paris satu setengah hari setelahnya, tanpa bagasi.

Mereka diberitahu bahwa barang tersebut akan dikirimkan pada malam terakhir mereka di Paris.

“Kami tiba di Paris tanpa bagasi dan cuaca dingin. Saya tidak punya satu celana pun. Kami menghabiskan sekitar Rp8,1 juta untuk pakaian baru,” kata Stephens.

Mereka juga melewatkan trip ke Disneyland Paris, yang merupakan hadiah dari orang tua Stephens. Keduanya akhirnya harus membayar biaya ketidakhadiran pada hotel mereka.

Diketahui, tas pertama hilang saat transit pada penerbangan pertama, dengan nomor penerbangan NZ103 yang dioperasikan oleh Air New Zealand.

Dua minggu setelah perjalanan tersebut, Stephens menerima email dari ibunya yang mengatakan bahwa koper tersebut telah sampai di Bandara Wellington tanpa label.

Petugas bagasi di Sydney hanya menemukan kontak ibu Stephens di koper tersebut, kemudian meneruskannya ke Wellington.

Stephens dan pasangannya yang masih berada di Eropa segera mengkoordinasikan kepulangan mereka.

Follow Berita Okezone di Google News

Kemudian pada 2 Januari, melalui email, maskapai Air New Zealand menawarkan untuk mengirimkan koper tersebut ke rumah mereka di Auckland.

Stephens menjawab email tersebut dua hari setelahnya, dan menanyakan apakah temannya bisa mengambil langsung koper tersebut dari Bandara Wellington atas namanya.

Berdasarkan penuturan teman sekamarnya, koper tersebut telah tiba dan van mereka juga dibobol pada Minggu 8 Januari.

“Saya tidak meminta ini. Saya tidak menyuruh mereka mengirimkan koper tersebut,” katanya.

“koper telah dikirim minggu itu (juga) dan tergeletak di luar rumah selama empat hari.”

Menurut pernyataan dari Air New Zealand, mereka menyesal mendengar hal tersebut, tetapi koper yang sampai pada mereka tidak memiliki label. Hanya informasi kontak yang tertulis di sana.

“Air New Zealand selalu memastikan telah menghubungi penumpang sebelum pengiriman tas tersebut, sebagai konfirmasi,” kata Alex Marren, kepala operasi maskapai.

Ilustrasi

Meskipun para penumpang menaiki Air New Zealand sebagai penerbangan lanjutan pertama, Marren mengatakan tanggung jawab terhadap koper tersebut terletak pada bagian maskapai yang mengoperasikan perjalanan selanjutnya ke Paris.

“Meskipun Air New Zealand tidak punya tanggung jawab terhadap hilangnya koper tersebut, tim kami ingin membantu, (mereka) mengerti hal itu bisa membuat siapa pun yang kehilangan koper bingung,” kata Marren.

Kesalahan itu terjadi setelah maskapai menafsirkan pesan ‘Ok’ dari Stephens, sebagai persetujuan untuk pengiriman koper.

Kompensasi soal koper tersebut belum dibahas sama sekali oleh pihak maskapai.

Sementara, untuk kasus van mereka yang dibobol, Stephens mengaku tidak menyalahkan maskapai Air New Zealand.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini